Sastra Teknik

Pancasila Sudah Ter-install, Apakah Sudah Running Saat Hidup Error?

Pancasila sudah kita hafal sejak sekolah. Pertanyaannya: ketika hidup sedang error, apakah operating system itu benar-benar bekerja?

Hari ini, dalam mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan, saya tidak langsung menjelaskan sila pertama dan kedua.

Saya justru memberikan challenge kepada mahasiswa:

“Coba tuliskan di papan. Selama menjadi mahasiswa, masalah apa saja yang menurut kalian paling berat?”

Mereka maju dan menulis sendiri.

Muncullah: keluarga, kesehatan mental, ekonomi dan finansial, teman kuliah, teman kos, tugas dan kegiatan, sampai pacar.

Saya challenge lagi:

“Sekarang urutkan. Mana yang paling besar pengaruhnya dalam kehidupan mahasiswa?”

Mereka berdiskusi, menghapus atau memindahkan, lalu menyusun kembali.

Keluarga dan kesehatan mental muncul di dua posisi teratas.

Saya lalu bertanya:

“Kalian sekarang sudah dewasa. Siapa sebenarnya yang paling menentukan bagaimana sebuah masalah akan kalian hadapi?”

Di sinilah diskusinya mulai menarik.

Ketika masih kecil, keluarga memang memegang peranan sangat besar. Tetapi ketika seseorang mulai dewasa, pusat kendali perlahan berpindah kepada dirinya sendiri.

Kita mulai bertanggung jawab atas pikiran, emosi, respons, pilihan, dan keputusan kita.

Bukan berarti semua masalah harus diselesaikan sendirian.

Justru orang dewasa harus tahu kapan mampu menyelesaikan sendiri dan kapan harus mengatakan:

“Saya butuh bantuan.”

Pancasila sebagai Operating System

Saya sering menggunakan analogi sederhana di kelas.

Pancasila adalah operating system atau software. Sedangkan kita, warga negara Indonesia, adalah hardware-nya.

Hardware yang baik membutuhkan software yang baik.

Tetapi software yang sudah ter-install saja belum cukup.

Harus running.

Kalau Pancasila hanya dihafalkan, dibaca ketika upacara, tetapi tidak muncul ketika kita menghadapi persoalan kehidupan, berarti operating system itu belum benar-benar bekerja.

Dari sinilah kami masuk ke sila pertama.

Ring Pertama: Kembali kepada Tuhan

Ketuhanan Yang Maha Esa bukan sekadar percaya bahwa Tuhan itu ada.

Keyakinan kepada Tuhan mestinya hadir dalam kehidupan: melalui ibadah, doa, kejujuran, kesabaran, rasa syukur, dan kemampuan mengendalikan diri.

Dalam Islam kita diingatkan:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
QS. Al-Baqarah: 286

Dan:

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
QS. Al-Insyirah: 5–6

Tentu bukan berarti orang yang rajin beribadah tidak akan mempunyai masalah.

Namun ibadah yang benar-benar dihayati mestinya membentuk pribadi yang lebih tenang, lebih tangguh, dan tetap mempunyai harapan.

Kalau memakai bahasa teknik, ibadah adalah bagian dari maintenance diri.

Komputer saja butuh maintenance. Apalagi manusia.

Kita sibuk kuliah, organisasi, tugas, mengejar prestasi, media sosial, dan banyak urusan lainnya.

Tetapi jangan-jangan kita lupa merawat hati.

Maka ketika hidup terasa berat, sesekali kita perlu bertanya:

“Bagaimana hubungan saya dengan Tuhan akhir-akhir ini?”

Boleh jadi sebuah masalah bukan datang untuk menghentikan perjalanan, tetapi menjadi alarm agar kita kembali.

Ring Kedua: Kembali ke Rumah

Kemudian sila kedua:

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Sisi kemanusiaan yang paling dekat dengan kita adalah keluarga.

Menariknya, keluarga tadi juga ditulis sendiri oleh mahasiswa sebagai salah satu persoalan terbesar mereka.

Keluarga memang bisa mempunyai masalah. Tetapi keluarga juga semestinya menjadi salah satu tempat utama untuk kembali.

Sebelum bercerita ke mana-mana, semoga ada ruang di rumah tempat kita berani berkata:

“Saya sedang tidak baik-baik saja.”

Rumah jangan sekadar menjadi alamat atau tempat tidur.
Rumah harus menjadi tempat pulang.

Namun sila kedua tentu tidak berhenti pada keluarga.

Ia juga hidup dalam cara kita memperlakukan teman kos, teman kuliah, dosen, dan orang-orang di sekitar kita. Kadang seseorang tidak membutuhkan solusi yang rumit. Ia hanya membutuhkan orang lain yang mau mendengar dengan adab dan tanpa menghakimi.

Kalaupun hubungan dengan orang terdekat sedang bermasalah, jangan langsung dianggap selesai.

Dalam jaringan komputer, ketika koneksi terganggu kita melakukan troubleshooting: mencari titik masalah, memperbaiki komunikasi, lalu mencoba menyambungkan kembali.

Hubungan manusia juga perlu dirawat.

Kalau Belum Cukup, Lakukan Escalation

Namun ada persoalan yang memang tidak cukup diselesaikan sendiri atau hanya bersama keluarga.

Di sinilah kita membutuhkan dosen wali, sahabat yang dipercaya, konselor, psikolog, tenaga kesehatan, atau orang yang memang kompeten.

Dalam teknologi ada istilah escalation.

Kalau masalah tidak bisa diselesaikan pada satu level, jangan dipaksakan. Naikkan kepada pihak yang lebih tepat menanganinya.

Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Itu bagian dari ikhtiar dan kedewasaan.

Yang berbahaya bukan ketika kita meminta bantuan, tetapi ketika kita merasa tidak ada satu pun tempat untuk meminta bantuan.

Karena itu, jangan menutup semua pintu sendirian.

Pancasila Harus Running

Yang menarik dari kelas hari ini, mahasiswa sendiri yang menulis masalahnya.
Mereka yang mengurutkan.
Mereka yang berdiskusi.

Saya hanya membantu menghubungkannya dengan nilai Pancasila.

Dan ternyata Pancasila sangat dekat.
Ketika kita jatuh, ada Ketuhanan.
Ketika kita membutuhkan sesama, ada Kemanusiaan.

Mungkin pendidikan memang tidak selalu harus dimulai dengan memberikan jawaban.

Kadang tugas dosen cukup memberikan pertanyaan yang tepat, kemudian membiarkan mahasiswa menemukan maknanya sendiri.

Pada akhirnya, kualitas sebuah sistem tidak hanya terlihat ketika semuanya berjalan normal.

Sistem justru diuji ketika menerima beban.

Begitu pula manusia.

Maka ketika hidup sedang error, pastikan operating system kita tetap running:

Kembali kepada Tuhan.
Kembali ke rumah.
Dan jangan malu meminta bantuan.

Never give up.

Sebab boleh jadi masalah bukan datang untuk menghentikan perjalanan kita.

Masalah justru sedang mengingatkan ke mana kita harus pulang.

Firman Arifin
firmanarifin.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *