Setiap hari kita menerima dan mengeluarkan energi.
Ada energi positif. Seperti rasa syukur, optimisme, apresiasi, semangat memperbaiki keadaan, dan keyakinan bahwa hari esok bisa lebih baik.
Ada pula energi negatif. Mulai dari kemarahan, kekecewaan, prasangka, kebencian, sampai dorongan untuk terus mencari siapa yang salah.
Apakah energi negatif selalu buruk?
Tidak juga.
Kita boleh kecewa ketika melihat sesuatu yang tidak benar. Kita boleh marah melihat ketidakadilan. Kita bahkan harus berani mengkritik. Ini sebagai bentuk kepedulian. Ketika ada kebijakan yang menurut kita perlu diperbaiki.
Termasuk kepada pemerintah.
Kalau ada yang baik, kita apresiasi.
Kalau ada yang kurang, kita kritik dan beri saran.
Kalau ada yang salah, kita ingatkan dan koreksi.
Itulah kepedulian.
Namun, ada perbedaan besar antara kritik dengan kebencian.
Antara peduli dengan terus-menerus menyalahkan.
Kita boleh tidak setuju dengan pemerintah tanpa kehilangan harapan kepada Indonesia.
Kita boleh mengoreksi orang lain tanpa lupa mengoreksi diri sendiri.
Sebab sering kali kita begitu sibuk melihat apa yang harus diperbaiki oleh orang lain, sampai lupa bertanya.
Apa yang harus saya perbaiki dari diri saya sendiri?
Allah mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
QS. Ar-Ra’d: 11
Ayat ini mengingatkan saya pada satu prinsip sederhana.
Pastikan diri kita senantiasa berubah dan berbenah.
Kita ingin masyarakat lebih disiplin?
Mulailah dari hal sederhana.
Di jalan raya, kita berharap semua orang tertib. Tetapi ketika lampu merah menyala dan jalan sedang sepi, apakah kita tetap berhenti?
Kita ingin negeri ini bersih dari korupsi?
Mulailah dengan tidak membiasakan ketidakjujuran kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Kita ingin pelayanan publik semakin baik?
Ketika kita sendiri mendapat amanah melayani orang lain, sudahkah kita memberikan pelayanan terbaik?
Kita menginginkan media sosial yang lebih sehat dan santun?
Sebelum menekan tombol share, sudahkah kita memastikan bahwa informasi yang kita bagikan benar?
Perubahan bangsa memang membutuhkan kebijakan besar.
Tetapi perubahan bangsa juga dibangun dari jutaan kebiasaan kecil warganya.
Bayangkan jika jutaan orang Indonesia mempunyai cara berpikir seperti ini.
Tetap kritis, tetapi tidak kehilangan optimisme.
Tetap peduli, tetapi tidak tenggelam dalam kemarahan.
Berani mengawasi pemerintah, tetapi juga berani mengawasi diri sendiri.
Yang baik kita apresiasi.
Yang kurang kita perbaiki.
Yang salah kita koreksi.
Dan diri sendiri terus kita benahi.
Sebaliknya, jika energi kita setiap hari hanya dihabiskan untuk mencari siapa yang salah, sementara diri sendiri tidak pernah berubah, kita akan menjadi bangsa yang sibuk saling menyalahkan.
Energi habis untuk marah.
Waktu habis untuk berdebat.
Sementara pekerjaan besar membangun Indonesia masih menunggu kita.
Karena itu, mari belajar mengelola energi kita.
Jangan biarkan berita buruk mengambil seluruh kebahagiaan kita.
Jangan biarkan perbedaan pandangan merampas persaudaraan kita.
Dan jangan biarkan kritik berubah menjadi kebencian.
Hari ini tidak perlu memulai dengan sesuatu yang besar.
Pilih satu hal kecil yang bisa kita benahi.
Datang lebih tepat waktu.
Lebih jujur.
Lebih disiplin.
Lebih santun.
Lebih bertanggung jawab.
Atau lebih berhati-hati sebelum menyebarkan informasi.
Lakukan hari ini.
Besok perbaiki lagi.
Tetap bahagia.
Tetap peduli.
Tetap kritis.
Dan tetap berbenah.
Saya percaya Indonesia mempunyai masa depan yang baik selama kita tidak kehilangan harapan dan setiap orang bersedia mengambil bagian dalam perubahan.
Ayo membangun Indonesia dengan penuh harapan dan keyakinan.
Dan sebelum meminta terlalu banyak orang lain berubah, mari mulai dari satu tempat yang paling dekat dan paling mungkin kita ubah,
diri kita sendiri.



