Sastra Teknik

Jumatan Pertama di China: Khutbah 3 Menit yang Menampar Hati

Masjid Liuzhou, China

Untuk pertama kalinya, saya melaksanakan shalat Jumat di China, tepatnya di Masjid Liuzhou, Kota Liuzhou.

Masjid ini berada di pusat kota, dikelilingi pertokoan dan aktivitas perdagangan. Menariknya, sejarah masjid ini dapat ditelusuri hingga sekitar tahun 1673, lebih dari tiga abad lalu.

Di tengah kota yang terus bergerak, masjid tua ini mempertemukan kami dalam satu panggilan yang sama:
panggilan untuk bersujud kepada Allah.


Seperti Pulang ke Rumah Allah

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika memasuki Masjid Liuzhou.

Beberapa orang yang tampaknya merupakan pengurus atau takmir masjid menyambut jemaah yang datang. Mereka menyambut kami dengan senyum yang begitu hangat.

Padahal kami tidak saling mengenal.

Bahasa berbeda.
Wajah berbeda.
Negara berbeda.

Tetapi sambutan itu membuat saya merasa seakan-akan bukan sedang datang ke tempat yang asing.

Seperti seseorang yang baru pulang dari perjalanan jauh, lalu disambut ketika kembali ke rumah.

Bedanya, kali ini kami datang dari negeri yang jauh dan dipertemukan di rumah Allah.
Masya Allah.

Barangkali begitulah indahnya rumah Allah.

Kita boleh datang dari arah yang berbeda, membawa bahasa dan cerita perjalanan yang berbeda, tetapi ketika sampai di sana, kita tidak lagi merasa sebagai orang asing.

Kami bersalaman dan saling tersenyum.

Kepada salah seorang Muslim lokal, spontan saya mengatakan bahwa saya mencintainya sebagai saudara sesama Muslim.

Entah beliau memahami seluruh kata-kata saya atau tidak. Ia membalas dengan senyuman yang begitu damai.

Tidak banyak kata, tetapi rasanya cukup untuk mengatakan:
kita bersaudara.

Ketika iman berada pada frekuensi yang sama, hati seperti menemukan kanal komunikasinya sendiri.

Siang itu, senyum menjadi bahasa yang sama.


Sembilan Shaf, Satu Kiblat

Jemaah siang itu cukup banyak. Saya menghitung sekitar sembilan shaf penuh, masing-masing kurang lebih 25 orang.

Sekitar dua shaf terlihat merupakan warga lokal China. Selebihnya cukup beragam, di antaranya dari Malaysia dan Indonesia.

Ada orang-orang dewasa yang bekerja atau berdagang, dan cukup banyak pula anak muda serta mahasiswa.

Berbeda usia, profesi, bahasa, dan bangsa.

Tetapi ketika shalat dimulai:
sembilan shaf itu menghadap satu kiblat, kepada Allah yang sama.


Tanpa Pengeras Suara

Ada hal sederhana yang menarik perhatian saya.

Azan pertama dikumandangkan di luar ruang utama, kurang lebih di area teras, tanpa pengeras suara.

Ketika khatib naik ke mimbar, azan kedua dikumandangkan di dalam masjid.
Lagi-lagi tanpa mikrofon.

Khutbahnya pun sangat singkat. Jika perkiraan saya tidak salah, khutbah pertama dan kedua secara keseluruhan bahkan tidak sampai tiga menit.

Setelah pujian kepada Allah, shalawat kepada Rasulullah, dan ajakan bertakwa, saya mendengar:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Kullu nafsin dza’iqatul maut.

Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.

Kalimatnya pendek.
Khutbahnya singkat.

Tanpa mikrofon. Tetapi pesannya terdengar begitu kuat di hati.

Saya melihat jemaah di sekeliling.
Warga lokal maupun pendatang. Muda maupun tua.

Semuanya masuk dalam kata “setiap”.
Tidak ada pengecualian.


GPS dan Baterai Kehidupan

Saya kemudian teringat GPS.

Di negeri yang belum kita kenal, perjalanan beberapa kilometer saja membutuhkan petunjuk. Ketika salah jalan, kita berharap segera mendapatkan rerouting (memperbarui arah).

Bagaimana dengan perjalanan menuju akhirat?
Al-Qur’an dan Sunnah adalah petunjuknya.

Selama hidup, ketika salah arah masih tersedia rerouting:
istighfar dan taubat.

Tetapi suatu saat perjalanan selesai.
Tidak ada lagi rerouting.

Begitu pula baterai handphone.

20 persen, kita mencari charger.
5 persen, kita mulai khawatir.

Karena indikatornya terlihat.

Tetapi umur kita?

Allah tidak menampilkan berapa persen usia kita yang tersisa.

Tidak pernah muncul:
Life remaining: 5%.

Karena itulah kita seharusnya selalu bersiap.


Ketika Masjid Tiga Abad Bertemu AI

Ada kontras yang menarik.

Saya datang ke China untuk belajar Artificial Intelligence, teknologi yang berbicara tentang masa depan.

Tetapi siang itu saya Jumatan di masjid yang sejarahnya telah berjalan lebih dari tiga abad.

Masa lalu dan masa depan seperti bertemu di satu tempat.

AI semakin cerdas.
Data semakin besar.
Komputasi semakin cepat.

Namun khutbah singkat di masjid tua itu mengingatkan satu kepastian:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Teknologi dapat membantu memprediksi banyak hal, tetapi kapan perjalanan kehidupan kita berakhir tetap berada dalam ketetapan Allah.

Teknologi terus bergerak menuju masa depan.
Manusia terus bergerak menuju Allah.


Pesan Pendek, Renungan Panjang

Jumatan pertama di China akhirnya memberi saya dua pengingat:

tentang persaudaraan dan tentang kematian.

Sebuah sambutan, salaman, dan senyuman mengajarkan bahwa orang yang tidak pernah kita kenal pun dapat terasa sebagai saudara.

Khutbah beberapa menit mengingatkan bahwa perjalanan kita suatu saat akan selesai.

Berbeda tempat kita memulai perjalanan.
Berbeda jalan yang kita lalui.
Tetapi kepada Allah-lah kita semua akan kembali.

Pertanyaannya bukan apakah kita akan sampai.

Tetapi, sudahkah kita menyiapkan bekal untuk sampai di sana?

Mungkin bekal itu dimulai dari hal sederhana:
menjaga hati, mencintai saudara, menghadirkan senyum, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki arah sebelum kesempatan untuk rerouting itu berakhir.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *