Sastra Teknik

Merdeka Karena Bahagia

Beberapa hari ini kata merdeka masih terasa dekat.

Bendera merah putih masih berkibar di banyak sudut jalan. Umbul-umbul belum semuanya diturunkan. Lagu-lagu perjuangan masih terngiang. Kita kembali diingatkan bahwa kemerdekaan bangsa ini tidak datang dengan mudah.

Ada darah, air mata, pengorbanan, bahkan nyawa yang diberikan agar negeri ini tidak lagi dijajah.

Namun pagi ini saya merenung.

Apakah setelah bangsa kita merdeka, hati kita juga sudah merdeka?

Sebab ternyata penjajahan tidak selalu datang dengan senjata.

Ada manusia yang hidup di negeri merdeka, tetapi hatinya masih dijajah.

Dijajah kekhawatiran.
Dijajah komentar orang.
Dijajah keinginan untuk selalu terlihat berhasil.
Dijajah rasa iri ketika melihat kehidupan orang lain tampak lebih indah.

Bahkan kadang dijajah oleh masalah yang belum tentu sebesar yang kita bayangkan.


Ketika Masalah Menjadi “Penjajah”

Bayangkan sebuah rumah.

Di depan rumah itu berdiri seorang tamu yang sebenarnya hanya ingin berteduh sebentar.

Tetapi karena kita terlalu takut, kita membuka pintu lebar-lebar, memberinya kamar terbaik, menyerahkan kunci rumah, bahkan membiarkannya menentukan apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan.

Akhirnya tamu itu menjadi seperti pemilik rumah.

Begitulah kadang kita memperlakukan masalah.

Masalah sebenarnya hanya datang berkunjung dalam perjalanan hidup.

Tetapi karena terus kita pikirkan, kita takutkan, kita bicarakan, bahkan kita bawa sampai ke tempat tidur, perlahan masalah itu seperti mengambil alih seluruh ruang dalam hati.

Padahal masalah punya tempatnya sendiri.

Ia boleh berada dalam kehidupan kita.

Tetapi jangan sampai ia menjadi pemilik hati kita.

Karena hati ini terlalu mahal untuk diserahkan kepada masalah.


Bahagia Bukan Berarti Tanpa Masalah

Kita sering membayangkan kebahagiaan seperti sebuah daftar.

Kalau rumah sudah bagus, bahagia.
Kalau kendaraan sudah bagus, bahagia.
Kalau jabatan naik, bahagia.
Kalau tabungan cukup, bahagia.
Kalau anak-anak sukses, bahagia.

Tidak ada yang salah dengan semua itu. Kita boleh berikhtiar mendapatkannya.

Tetapi kehidupan mengajarkan sesuatu yang menarik.

Ada orang yang memiliki banyak hal tetapi tetap gelisah.

Sebaliknya, ada orang yang kehidupannya sederhana tetapi wajahnya terasa teduh.

Berarti ada sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan.

Namanya ketenangan hati.

Ibarat sebuah kapal.

Kapal tidak tenggelam karena air berada di sekelilingnya.
Kapal tenggelam ketika air masuk ke dalamnya.

Begitu pula manusia.

Kita tidak hancur hanya karena di sekitar kita ada persoalan.
Yang berbahaya adalah ketika persoalan itu masuk terlalu dalam hingga memenuhi hati kita.

Maka mungkin ukuran bahagia bukanlah berapa sedikit masalah yang kita punya.

Tetapi seberapa besar hati kita mampu menampung masalah tanpa kehilangan ketenangan.


Ada Allah di Tengah Masalah

Orang beriman juga punya masalah.

Bahkan para nabi dan orang-orang saleh justru mengalami ujian yang tidak ringan.

Mereka pernah kehilangan.
Pernah disakiti.
Pernah dikhianati.
Pernah menghadapi situasi yang secara manusiawi sangat berat.

Tetapi ada satu hal yang membuat mereka berbeda.

Mereka tidak menghadapi semuanya sendirian.

Ada keyakinan sederhana tetapi sangat kuat:
Allah ada.

Ketika kita benar-benar meyakini bahwa Allah ada, cara kita melihat masalah perlahan berubah.

Masalah mungkin belum selesai.
Tetapi hati mulai tenang.

Jalan keluar mungkin belum terlihat.
Tetapi harapan belum hilang.

Doa mungkin belum terjawab seperti yang kita inginkan.
Tetapi kita percaya bahwa Allah tidak pernah salah mengatur kehidupan hamba-Nya.

Di sinilah saya memahami mengapa qana’ah, sabar, tawakal dan husnudzan kepada Allah merupakan sumber ketenangan yang sangat besar.

Bukan karena kita menyerah.
Justru karena setelah berikhtiar sebaik-baiknya, kita tahu ada wilayah yang memang harus kita serahkan kepada Allah.


Seperti GPS yang Menghitung Ulang Jalan

Saya suka analogi sederhana tentang GPS.

Ketika kita salah belok, GPS tidak marah.

Tidak mengatakan,
“Sudah saya bilang tadi belok kiri!”

Ia hanya mengatakan:
Recalculating.

Lalu mencari jalan baru menuju tujuan.

Hidup kita juga sering seperti itu.

Kadang rencana berubah.
Kadang pekerjaan tidak berjalan sesuai harapan.
Kadang orang yang kita percaya mengecewakan.
Kadang sesuatu yang kita kejar bertahun-tahun ternyata bukan jalan kita.

Mungkin saat itu Allah sedang melakukan sesuatu yang tidak langsung kita pahami.
Recalculating.

Bukan berarti tujuan hidup kita hilang.
Mungkin hanya rutenya yang berubah.

Dan orang yang percaya kepada Allah akan lebih mudah menerima bahwa tidak semua jalan menuju kebaikan harus melewati rute yang kita rencanakan sendiri.


Jangan Menjual Hati Terlalu Murah

Ada satu hal yang juga sering membuat hati kehilangan kemerdekaan.

Penilaian manusia.

Kita senang ketika dipuji.
Sedih ketika dikritik.
Marah ketika diremehkan.
Kecewa ketika kebaikan tidak dihargai.

Manusiawi.

Tetapi kalau seluruh kebahagiaan kita bergantung pada penilaian orang lain, berarti tanpa sadar kita telah menyerahkan remote control kebahagiaan kita kepada mereka.

Mereka memuji, kita senang.
Mereka mencela, kita hancur.
Mereka menyukai kita, kita tenang.
Mereka mengabaikan kita, kita gelisah.

Padahal hidup terlalu singkat untuk dikendalikan oleh remote control yang berada di tangan orang lain.

Ada kalanya kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Mengapa hati yang seharusnya hanya tunduk kepada Allah begitu mudah digerakkan oleh komentar manusia?


Merdeka yang Sesungguhnya

Mungkin inilah salah satu makna kemerdekaan yang paling dalam.

Bukan hidup tanpa masalah.
Bukan hidup tanpa ujian.
Bukan pula hidup tanpa orang yang tidak menyukai kita.

Tetapi memiliki hati yang tidak mudah diperbudak oleh semuanya.

Merdeka bukan berarti hidup tanpa masalah. Merdeka adalah ketika masalah tidak lagi mampu menjajah hati kita.

Kita tetap bekerja.
Tetap berusaha.
Tetap memperbaiki keadaan.
Tetapi hati tidak kehilangan tempat pulangnya.

Karena seberat apa pun perjalanan hidup, masih ada tempat untuk bersandar.

Masih ada tempat untuk mengadu.
Masih ada tempat untuk berharap.
Allah.

Barangkali karena itulah ada kalimat sederhana yang terasa menenangkan:

Cukup Allah saja buatku.

Allah ada.
Ada Allah.

Maka kita masih punya alasan untuk bersyukur.
Masih punya alasan untuk berharap.
Dan masih punya alasan untuk bahagia.

Pada akhirnya, kemerdekaan terbesar bukan ketika dunia memberi kita semua yang kita inginkan.

Tetapi ketika hati kita mampu berkata:

Aku punya masalah, tetapi masalah tidak memiliki hatiku.

Karena hati ini milik Allah.

Dan mungkin di situlah manusia menemukan dua hal sekaligus:

bahagia dan merdeka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *