Belajar dari AI tentang Gesekan, Kolaborasi, dan Kepemimpinan
Dalam tulisan sebelumnya, saya belajar satu hal menarik:
AI tidak selalu bekerja sendirian.
Untuk menyelesaikan pekerjaan besar, komputasi dapat dibagi kepada banyak komputer atau worker. Mereka bekerja bersama, berbagi tugas, lalu menggabungkan hasil untuk mencapai satu tujuan.
Saya pernah menyebutnya dengan istilah sederhana:
AI pun perlu “berjamaah”.
Tetapi kemudian muncul pertanyaan.
Kalau sudah bekerja bersama, apakah semuanya pasti berjalan mulus?
Ternyata tidak.
Dalam sistem komputasi pun bisa muncul masalah.
Ada bagian yang terlambat.
Ada koneksi yang terganggu.
Ada proses yang gagal.
Ada pekerjaan yang harus diulang.
Ada pula bagian yang harus dibantu atau bahkan pekerjaannya dialihkan kepada bagian lain.
Artinya:
kebersamaan tidak menghilangkan gesekan.
Justru ketika semakin banyak yang bekerja bersama, semakin dibutuhkan koordinasi, komunikasi, supervisi, dan kepemimpinan.
Membagi Tugas Belum Berarti Selesai
Hal yang sama terjadi dalam organisasi.
Seorang pemimpin bisa memiliki banyak orang hebat.
Ada yang pandai di bidang A.
Ada yang kuat di bidang B.
Ada yang cocok mengerjakan C.
Tugas kemudian dibagikan sesuai potensinya.
Namun pekerjaan seorang pemimpin tidak berhenti setelah berkata:
“Kamu kerjakan ini.”
“Kamu bertanggung jawab di sana.”
Distribusi amanah hanyalah awal.
Setelah itu, pemimpin harus memastikan:
Apakah tugas berjalan?
Apakah ada kesulitan?
Apakah antarbagian masih terhubung?
Dan yang paling penting:
apakah semuanya masih bergerak menuju tujuan yang sama?
Ketika Ada yang Bermasalah
Di sinilah kepemimpinan benar-benar diuji.
Dalam sebuah tim, mungkin ada anggota yang sedang mengalami masalah.
Pekerjaannya terlambat.
Komunikasinya kurang baik.
Atau hasilnya belum seperti yang diharapkan.
Kalau ada batas waktu yang harus dipenuhi, pemimpin tentu tidak boleh membiarkan seluruh pekerjaan berhenti.
Ia dapat membantu.
Mengambil alih sementara.
Mendistribusikan kembali pekerjaan.
Atau meminta anggota lain memberikan dukungan.
Karena tujuan bersama tetap harus diselamatkan.
Namun ada hal yang menurut saya tidak kalah penting.
Orang yang bermasalah tadi jangan kemudian begitu saja ditinggalkan.
Ia tetap perlu diajak bicara.
Dinasihati.
Didampingi.
Diperbaiki.
Agar suatu saat kembali menjadi kekuatan bagi organisasi.
Karena kepemimpinan bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan.
Kepemimpinan juga membangun manusia.
Kalimat sederhananya:
Selamatkan tugasnya, tetapi jangan tinggalkan orangnya.
Gesekan Itu Bagian dari Kebersamaan
Dalam kehidupan sosial pun demikian.
Di keluarga ada perbedaan.
Di kantor ada salah komunikasi.
Di masyarakat ada perbedaan pandangan.
Bahkan dalam kerja bakti kampung bisa muncul gesekan.
Ada yang datang pagi.
Ada yang terlambat.
Ada yang merasa bekerja lebih banyak.
Ada yang merasa kurang dihargai.
Apakah kemudian kampungnya dibubarkan?
Tentu tidak.
Yang diperlukan adalah kembali mengingat:
untuk apa kita berkumpul sejak awal?
Bahkan Lomba 17 Agustus Pun Bisa Ribut
Menjelang 17 Agustus, hampir di setiap kampung ada perlombaan.
Tarik tambang.
Balap karung.
Panjat pinang.
Bawa kelereng
Kita bisa berteriak sekuat-kuatnya.
Berusaha menang.
Bahkan saling menarik sampai jatuh.
Tetapi setelah lomba selesai, orang yang tadi berada di seberang kita bukanlah penjajah.
Dia tetap tetangga kita.
Teman kita.
Saudara kita.
Besok mungkin kita kerja bakti bersama lagi.
Ini sebuah pelajaran sederhana:
berbeda posisi tidak otomatis berarti berbeda tujuan.
Dalam perlombaan kita boleh berada di sisi yang berlawanan.
Tetapi kita sedang merayakan kemerdekaan yang sama.
Jangan Salah Mengenali Lawan
Dalam kehidupan berbangsa, kita pun boleh berbeda.
Berbeda pandangan.
Berbeda organisasi.
Berbeda pilihan.
Berbeda cara menyampaikan gagasan.
Kritik boleh.
Perdebatan boleh.
Kompetisi pun boleh.
Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita mudah mendiskreditkan, merendahkan, atau bahkan menganggap sesama anak bangsa sebagai musuh.
Karena boleh jadi persoalan terbesar kita bukanlah perbedaan itu sendiri.
Persoalannya muncul ketika kita kehilangan tujuan bersama.
Kembali Belajar dari AI
Sistem komputasi yang besar tidak kuat karena semua komponennya selalu sempurna.
Ia kuat karena ketika muncul masalah, ada mekanisme yang menjaga agar keseluruhan sistem tetap bekerja menuju tujuan.
Begitu pula organisasi.
Begitu pula masyarakat.
Dan begitu pula Indonesia.
Bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang tidak pernah berbeda.
Bukan pula bangsa yang tidak pernah mengalami gesekan.
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang ketika berbeda, tidak kehilangan arah.
Ketika ada yang tertinggal, kita bantu.
Ketika ada yang keliru, kita perbaiki.
Ketika ada pekerjaan besar, kita berbagi peran.
Ketika ada gesekan, pemimpin hadir untuk menyatukan kembali kekuatan.
Karena pada akhirnya kita tidak harus selalu berdiri pada posisi yang sama untuk memperjuangkan tujuan yang sama.
Boleh berbeda pandangan.
Boleh berbeda peran.
Boleh berkompetisi.
Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita lupa siapa kita.
Kita boleh berbeda, tapi jangan kehilangan Indonesia. 🇮🇩
Dirgahayu Republik Indonesia.



