Sastra Teknik

Kalau AI Saja Berjamaah, Masa Kita Tidak?

Belajar dari Komputasi, Memahami Kekuatan Kolaborasi

Dalam tulisan sebelumnya, kita berbicara tentang AI × X.

AI adalah pengungkit.

Sedangkan X adalah potensi yang melekat pada manusia: skill, karakter, kreativitas, komunikasi, etika, pengalaman, termasuk kemampuan membangun network.

Kali ini saya ingin fokus pada satu bagian dari X itu:

network.

Karena sehebat apa pun seseorang, pada akhirnya ia tidak dapat mengerjakan semuanya sendirian.

Ternyata AI pun demikian.

Dari Komputer Hebat ke Sistem yang Hebat

Teknologi komputer terus berkembang.

Single-core.
Dual-core.
Quad-core.
Multi-core.

Kemampuan satu komputer semakin besar.

Tetapi ada persoalan.

Jika semua pekerjaan bergantung pada satu mesin, lalu mesin itu bermasalah, pekerjaan dapat ikut berhenti.

Dalam teknologi, salah satu istilahnya adalah single point of failure: satu titik gagal yang dapat mengganggu seluruh sistem.

Karena itu, perkembangan komputasi tidak hanya mengejar:

bagaimana membuat satu komputer semakin hebat,

tetapi juga:

bagaimana banyak komputer dapat bekerja bersama.

Muncullah parallel computing, grid computing, distributed computing, hingga cloud computing.

Namanya memang teknis.

Namun idenya sederhana:

pekerjaan besar tidak harus dikerjakan sendirian.

Kalau Satu Bermasalah, yang Lain Membantu

Dalam sistem komputasi modern dikenal konsep fault tolerance.

Sistem dirancang agar ketika satu bagian mengalami gangguan, bagian lain dapat membantu mengambil alih pekerjaannya.

Tentu tidak otomatis. Sistemnya memang harus dirancang untuk itu.

Tetapi filosofinya menarik.

Ketika satu komputer bermasalah, komputer lain seakan berkata:

“Bagian itu saya bantu.”

Kok rasanya seperti berjamaah?

AI yang Kita Lihat Hanya Ujungnya

Hari ini kita membuka handphone.

Bertanya kepada AI.

Beberapa detik kemudian jawabannya muncul.

Seakan-akan seluruh kecerdasan AI berada di handphone kita.

Padahal tidak.

Di baliknya ada server, pusat data, jaringan, penyimpanan, CPU, GPU, energi listrik, sistem pendingin, dan perangkat lunak yang membuat semuanya bekerja bersama.

Kita hanya melihat:

jawabannya.

Kita tidak melihat sistem besar di belakangnya.

Seperti menekan sakelar lampu.

Klik.

Lampu menyala.

Padahal di belakangnya ada pembangkit, jaringan transmisi, gardu, kabel, hingga manusia yang menjaganya.

AI pun demikian.

Yang terlihat sederhana.
Yang bekerja di belakangnya luar biasa.

Saya Jadi Teringat Berjamaah

Ketika mempelajari bagaimana berbagai komputer saling terhubung, saya teringat sebuah konsep indah dalam Islam:

berjamaah.

Tentu Rasulullah tidak sedang mengajarkan cloud computing.

Namun beliau memberikan teladan bagaimana manusia dengan kemampuan berbeda dapat disatukan untuk tujuan yang sama.

Para sahabat tidak sama.

Ada yang kuat ekonominya.
Ada yang kuat pemikirannya.
Ada yang pemberani.
Ada yang pandai berdagang.
Ada yang kuat hafalannya.
Ada yang mempunyai kemampuan memimpin.

Tidak semuanya mengerjakan pekerjaan yang sama.

Masing-masing memberikan kemampuan terbaiknya.

Berbeda kemampuan.
Berbeda peran.
Tetapi satu tujuan.

Itulah indahnya berjamaah.

Network Bukan Sekadar Banyak Kenalan

Dalam komputer pun komponennya berbeda.

Ada CPU.
Ada GPU.
Ada penyimpanan.
Ada jaringan.

Fungsinya berbeda, tetapi semuanya harus dapat berkomunikasi.

Manusia juga demikian.

Tidak perlu semua menjadi programmer.
Tidak perlu semua menjadi pemimpin.
Tidak perlu semua mempunyai keahlian yang sama.

Justru kekuatan muncul ketika:

perbedaan dapat dikolaborasikan.

Karena itu network bukan sekadar mempunyai ribuan kontak atau followers.

Network membutuhkan:
komunikasi.

Komunikasi membutuhkan:
kepercayaan.

Kepercayaan membutuhkan:
integritas.

Dan integritas membutuhkan:
etika.

Jangan Sampai Tanpa Kita Semua Berhenti

Pelajaran ini penting juga dalam organisasi.

Jika semua informasi hanya diketahui satu orang,

bahaya.

Jika satu pekerjaan hanya bisa dilakukan satu orang,

bahaya.

Jika organisasi berhenti ketika pemimpinnya tidak hadir,

berarti yang dibangun mungkin bukan sistem.

Tetapi:

ketergantungan.

Sistem yang sehat membutuhkan berbagi pengetahuan, kaderisasi, pembagian peran, komunikasi, dan kepercayaan.

Bukan:

“Tanpa saya semuanya berhenti.”

Tetapi:

“Kalau saya tidak ada, sistem tetap berjalan.”


Kembali kepada X

Maka kita kembali kepada:

AI × X.

X bukan hanya kecerdasan dan skill.

Di dalamnya ada karakter, komunikasi, etika, kolaborasi, dan network.

Network membuat kemampuan kita bertemu dengan kemampuan orang lain.

Kelebihan saya membantu kekurangan Anda.

Kelebihan Anda menutup keterbatasan saya.

AI yang sangat canggih saja ternyata membutuhkan jaringan, komputasi, energi, dan banyak sistem yang bekerja bersama.

Maka pertanyaannya sederhana:

Kalau AI saja berjamaah, masa kita tidak?

Sendiri kita mungkin hebat.

Berjamaah, insyaaAllah kita jauh lebih kuat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *