Matematika Nilai Pancasila: Ketika Satu Tidak Pernah Ditinggalkan
Semalam saya kembali menginjakkan kaki di tanah air.
Setelah dua pekan mengikuti rangkaian AI Training di China, pesawat mendarat di Juanda, Surabaya.
Belum sempat benar-benar berganti suasana, malamnya saya langsung kembali ke tengah warga.
Mengikuti malam tirakatan dan syukuran kemerdekaan.
Rasanya seperti sebuah transisi yang indah.
Dua pekan berbicara tentang AI, teknologi, algoritma, dan masa depan, lalu kembali ke kampung, duduk bersama warga, mensyukuri kemerdekaan yang diwariskan para pejuang.
Ke toko Sakinah berbaju sopan,
Jangan lupa membawa uang.
Selamat merayakan kemerdekaan,
Mari teruskan semangat para pejuang!
Pantun di atas sebagai pembuka sambutan saya sebagai ketua RT di hadapan warga.
Dan pagi ini, rasa syukur itu berlanjut.
Saya mendapat kesempatan mengikuti Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Balai Kota Surabaya, mewakili Direktur PENS sebagai salah satu pimpinan kampus. Sementara pada waktu yang sama, Direktur PENS memimpin upacara di kampus.
Dari China kembali ke Surabaya.
Dari bicara tentang teknologi masa depan, kembali diingatkan pada sesuatu yang menjadi fondasi perjalanan bangsa ini.
Pancasila.
Ketika Pancasila dibacakan pagi itu, entah mengapa saya tidak sekadar ikut mendengarkan.
Saya merenung.
Sila pertama.
Sila kedua.
Sila ketiga.
Sila keempat.
Sila kelima.
Kita sudah menghafalnya sejak kecil.
Tetapi pagi itu muncul satu pertanyaan sederhana dalam pikiran saya:
Jangan-jangan urutan sila-sila Pancasila itu bukan sekadar nomor?
Jangan-jangan satu, dua, tiga, empat, dan lima bukan lima ruang yang berdiri sendiri.
Ada hubungan di antaranya.
Ada nilai yang terus dibawa.
Ada proses yang terus bertumbuh.
Saya kemudian membayangkannya seperti matematika sederhana.
Bukan matematika angka.
Tetapi matematika nilai.
1 → 2
Sila pertama:
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Bagi saya sebagai seorang Muslim, ketuhanan tentu bukan sekadar pengakuan di lisan.
Syahadat tidak berhenti pada pernyataan bahwa Allah itu satu.
Ada kelanjutannya.
Ada ketundukan.
Ada ibadah.
Ada akhlak.
Ada amal.
Dan ada Rasulullah sebagai teladan bagaimana keyakinan kepada Allah diterjemahkan dalam kehidupan nyata.
Karena itu, saya melihat sila kedua seperti buah dari sila pertama:
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Ketuhanan yang sungguh-sungguh seharusnya membuat seseorang semakin manusiawi.
Semakin menghargai orang lain.
Semakin adil.
Semakin santun.
Semakin beradab.
Maka mungkin kita perlu sesekali bertanya kepada diri sendiri:
kalau ketuhanan kita semakin kuat, tetapi kemanusiaan kita justru semakin lemah, adakah yang perlu kita periksa dari cara kita memahami ketuhanan?
Sebab Tuhan semestinya tidak hanya hadir di tempat ibadah.
Nilai ketuhanan semestinya terlihat dari bagaimana kita memperlakukan manusia.
1 + 2 → 3
Setelah manusia belajar tentang ketuhanan dan kemanusiaan, ia tidak hidup sendirian.
Manusia bertemu manusia lain.
Berbeda suku.
Berbeda daerah.
Berbeda budaya.
Berbeda bahasa.
Berbeda keyakinan.
Bahkan berbeda cara melihat sebuah persoalan.
Maka kita membutuhkan sila ketiga:
Persatuan Indonesia.
Persatuan bukan berarti semuanya harus sama.
Persatuan justru menjadi bermakna karena kita memang berbeda.
Tetapi orang-orang yang berbeda itu dipertemukan oleh nilai yang sama:
bahwa manusia harus dihormati, kehidupan harus dijaga, dan Indonesia adalah rumah bersama.
Maka sila pertama tidak hilang ketika kita sampai pada sila ketiga.
Sila kedua pun tidak ditinggalkan.
Ketuhanan tetap dibawa.
Kemanusiaan tetap dibawa.
Barulah lahir persatuan.
1 + 2 → 3.
1 + 2 + 3 → 4
Tetapi setelah orang bersatu, muncul persoalan berikutnya.
Kalau ada banyak orang, pasti ada banyak pikiran.
Ada banyak kepentingan.
Ada banyak pendapat.
Lalu bagaimana keputusan diambil?
Di situlah sila keempat hadir:
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Bagi saya, kata yang menarik adalah:
hikmat.
Bukan sekadar menang suara.
Bukan sekadar siapa yang paling keras bicara.
Bukan pula siapa yang paling banyak pendukungnya.
Ada hikmat.
Ada kebijaksanaan.
Ada musyawarah.
Ada kesediaan mendengar.
Ada kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri.
Karena itu sila keempat tetap membutuhkan sila-sila sebelumnya.
Ketuhanan memberi kompas.
Kemanusiaan memberi batas.
Persatuan mengingatkan kita pada kepentingan bersama.
Lalu musyawarah membantu kita menentukan jalan.
Tanpa kemanusiaan, demokrasi bisa berubah menjadi sekadar pertarungan jumlah.
Tanpa persatuan, musyawarah bisa berubah menjadi transaksi kepentingan.
Dan tanpa nilai moral yang kuat, keputusan yang sah sekalipun belum tentu menghadirkan kebijaksanaan.
Maka:
1 + 2 + 3 → 4.
1 + 2 + 3 + 4 → 5
Lalu kita sampai pada sila terakhir:
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Saya justru melihat sila kelima sebagai semacam ujian akhir.
Kita boleh bicara panjang tentang ketuhanan.
Kita boleh menyerukan kemanusiaan.
Kita boleh meneriakkan persatuan.
Kita boleh bermusyawarah berjam-jam.
Tetapi pada akhirnya ada satu pertanyaan sederhana:
apakah rakyat merasakan keadilan?
Apakah yang kecil ikut mendapatkan ruang?
Apakah yang lemah mendapatkan perlindungan?
Apakah kesempatan hanya berputar di kalangan tertentu?
Apakah pembangunan benar-benar menghadirkan kemaslahatan bagi sebanyak mungkin orang?
Karena kalau keadilan belum dirasakan, mungkin perjalanan kita belum selesai.
Maka bagi saya:
1 + 2 + 3 + 4 → 5.
Bukan berarti empat angka menghasilkan lima secara matematis.
Ini bukan rumus matematika.
Ini hanya cara sederhana untuk memahami bahwa nilai-nilai Pancasila tidak saling menggantikan, tetapi saling membawa.
Ketika masuk sila kedua, sila pertama tidak dibuang.
Ketika masuk sila ketiga, sila pertama dan kedua tidak ditinggalkan.
Begitu seterusnya.
Semuanya dibawa sampai ke tujuan akhirnya:
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tentu ini hanyalah cara saya merenungi Pancasila dari sudut pandang seorang Muslim.
Saudara-saudara kita dengan agama dan keyakinannya masing-masing tentu memiliki jalan untuk menemukan dan menghidupkan nilai-nilai luhur yang sama.
Karena mungkin memang di situlah indahnya Indonesia.
Kita tidak harus sama untuk berjalan bersama.
Dan mungkin itulah salah satu rahasia sederhana Pancasila:
semakin besar nomor silanya, bukan berarti sila sebelumnya semakin jauh.
Justru semakin banyak nilai yang harus kita bawa.
Dari Ketuhanan.
Menjadi kemanusiaan.
Menguat menjadi persatuan.
Dikelola dengan hikmat melalui musyawarah.
Lalu dibuktikan dalam keadilan.
Karena pada akhirnya,
Pancasila tidak cukup hanya dibaca.
Tidak cukup hanya dihafalkan.
Tidak cukup hanya dipasang di dinding.
Pancasila menemukan maknanya ketika nilai-nilainya hidup dalam cara kita memperlakukan sesama.
Dan barangkali pertanyaan terpentingnya bukan lagi:
“Apakah kita hafal lima sila?”
Tetapi:
“Sudah sejauh mana lima sila itu hidup dalam diri kita?”
——-
*Keterangan foto: Swafoto bersama Kepala BRIDA Kota Surabaya, Bapak Agus Sonhaji, selepas mengikuti Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026, di Balai Kota Surabaya.



