Ketika Negara Non-Muslim Ikut Berlari
Tadi pagi saya menghadiri Grand Opening Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa 2026 di Grand City Surabaya. Saat menyimak sambutan Gubernur Bank Indonesia, ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya.
Ekonomi syariah ternyata bukan lagi hanya menarik bagi umat Islam.
Ada 3 nilai yang semakin universal di dalamnya, Well-being, inclusive, dan mutual benefit. Ekonomi tidak hanya berbicara tentang keuntungan, tetapi juga kesejahteraan. Tidak eksklusif untuk kelompok tertentu. Tujuan akhirnya, dibangun agar manfaat ekonomi dapat dirasakan bersama.
Hal yang sama terlihat pada industri halal.
Halal: dari keyakinan menjadi kepercayaan
Halal tentu bermula dari ketentuan agama. Tetapi ketika masuk ke pasar, ia membawa nilai lain. Seperti kebersihan, keamanan, kualitas proses, traceability, serta kepercayaan konsumen.
Itulah sebabnya halal mulai menarik bukan hanya bagi konsumen Muslim. Pemerintah Filipina bahkan pernah menyampaikan bahwa produk halal semakin dikenal konsumen non-Muslim karena berkaitan dengan etika, higiene, fair trade, dan pembiayaan yang berkeadilan.
Yang lebih menarik lagi, Filipina, negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim justru menargetkan diri menjadi premier halal hub di kawasan Asia Pasifik pada 2028.
Targetnya tidak kecil: produk dan layanan bersertifikat halal akan digandakan dari sekitar 3.000 menjadi 6.000, dengan target investasi PHP230 miliar dan penciptaan 120.000 lapangan kerja.
Vietnam juga mulai berlari
Vietnam pun melihat peluang yang sama.
Pada 2026, Vietnam meluncurkan Vietnam Halal Promotion and Experience Center untuk membantu produk dan perusahaan Vietnam memasuki pasar halal global.
Lalu muncul pertanyaan yang cukup menggelitik:
Kalau Filipina dan Vietnam saja serius mengejar pasar halal dunia, bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia sebenarnya memiliki modal luar biasa besar.
Indonesia berada di peringkat keempat ekonomi syariah dunia, peringkat pertama modest fashion, kedua pariwisata ramah Muslim, dan ketiga makanan halal berdasarkan SGIE Report 2025/2026.
Tetapi di sinilah tantangannya.
Pada Juni 2025, total pembiayaan perbankan syariah mencapai sekitar Rp646,5 triliun. Dari jumlah tersebut, pembiayaan yang masuk ke sektor Halal Value Chain sekitar Rp56,8 triliun atau 8,78%. Bank Indonesia sendiri menilai fungsi intermediasi perbankan syariah terhadap penciptaan nilai tambah sektor riil masih perlu diperkuat.
Angka 8,78% ini menarik.
Kita mempunyai makanan halal.
Kita mempunyai fesyen Muslim.
Kita mempunyai wisata ramah Muslim.
Kita mempunyai jutaan produk dan pelaku usaha halal.
Tetapi jangan sampai produknya sudah halal, sementara ekosistem ekonominya belum ikut tumbuh.
Kalau dianalogikan dengan sebuah sistem teknik, produk halal hanyalah output.
Sebuah output yang bagus tidak akan bertahan kalau sistem di belakangnya tidak lengkap.
Sertifikasi adalah standard protocol-nya.
Logistik adalah network-nya.
Data dan digitalisasi adalah information system-nya.
Pasar adalah interface-nya.
Dan pembiayaan syariah adalah power supply-nya.
Kalau power supply-nya tidak tersambung, sebagus apa pun perangkat di ujung jaringan, sistem tidak akan bekerja optimal.
Begitu pula industri halal.
Tidak cukup hanya menghasilkan produk halal. Kita membutuhkan sistem yang menghubungkan produksi, sertifikasi, logistik, teknologi, pembiayaan, investasi, ekspansi usaha, sampai akses pasar global.
Dalam bahasa teknik:
Jangan hanya membangun device-nya. Bangun network dan ecosystem-nya.
Karena itu perlombaan ke depan bukan lagi sekadar:
“Siapa yang mempunyai produk halal paling banyak?”
Pertanyaannya sudah berubah menjadi:
“Siapa yang paling berhasil membangun ekosistem halal dari hulu sampai hilir?”
Filipina mulai berlari.
Vietnam juga mulai berlari.
Indonesia mempunyai modal yang jauh lebih besar. Selain negara dengan jumlah muslim yang terbanyak di dunia, juga pondok pesantren yang banyak pula.
Jangan sampai kita hanya menjadi pasar dan produsen halal yang besar, sementara negara lain justru menjadi hub-nya.
Dan mungkin inilah salah satu inspirasi terpenting yang saya bawa pulang dari FESyar kali ini:
Halal bukan sekadar label pada produk.
Produk halal adalah output.
Ekonomi syariah adalah sistemnya.
Dan sebuah output hanya akan besar jika sistem di belakangnya ikut kuat.



