Sastra Teknik

Saatnya Inovasi PENS Menjadi Bisnis

Bisnis Digital × Ekonomi Syariah

Mengikuti rangkaian Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa 2026 di Grand City Surabaya memberi saya satu kesan kuat. Ekonomi syariah sedang bergerak dari sekadar konsep menuju ekosistem nyata.

Pada pembukaan FESyar Jawa 2026, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa ekonomi dan keuangan syariah memiliki peran strategis sebagai sumber pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Penguatannya diarahkan pada rantai nilai halal yang semakin terintegrasi, pembiayaan syariah, serta perluasan literasi dan inklusi.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan ekonomi syariah tidak cukup dilihat dari besarnya aset, tetapi dari luasnya manfaat dan kemaslahatan yang dihasilkan.

Tema yang dipilih pun menarik.
“Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital.”

FESyar Jawa berlangsung 25–27 September 2026 di Grand City Convention & Exhibition Surabaya dan menjadi bagian dari rangkaian menuju ISEF.

Semalam, Minggu 27 September 2026, rangkaian itu resmi ditutup. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak hadir dalam closing ceremony sekaligus menyerahkan berbagai penghargaan ekonomi syariah kepada pemerintah daerah. Salah satunya, Kota Mojokerto kembali menjadi juara umum setelah meraih delapan penghargaan dari 14 kategori.

Penghargaan juga diberikan untuk beragam aspek yang sangat konkret. Diantaranya; ekonomi hijau, inovasi ekonomi syariah, keuangan mikro syariah, wakaf, inklusi keuangan syariah, Zona Kuliner Halal Aman dan Sehat (Zona KHAS), hingga pariwisata ramah Muslim. Misalnya Magetan memperoleh penghargaan kategori ekonomi hijau dan Zona KHAS, sedangkan Lamongan memperoleh penghargaan Zona KHAS dan pariwisata ramah Muslim.

Yang lebih menarik, pada penutupan itu Pak Emil mengingatkan bahwa persaingan ekonomi syariah sudah melintasi batas negara Muslim. Ia menyebut Thailand dan Filipina juga sedang membidik peluang menjadi pusat keuangan syariah di kawasan. Pesannya sederhana: Indonesia memiliki modal besar, tetapi tidak boleh kendor dalam membangun nilai tambah dan ekosistemnya.

Bagi saya yang hadir mewakili PENS saat pembukaan dan penutupan ini seperti sebuah closed-loop system.

Pembukaan memberikan beberapa setpoint. Ekonomi syariah harus inklusif, berkelanjutan, terintegrasi, dan membawa kemaslahatan.

Selama tiga hari, berbagai program menjadi process-nya.

Sedangkan penutupan dan penghargaan menjadi semacam feedback. Daerah mana yang sudah bergerak, inovasi apa yang bekerja, dan bagian mana yang masih harus diperkuat.

Sebagai orang teknik, saya justru kemudian berpikir.
Bukankah konsep ini sangat dekat dengan PENS?

PENS sudah lama kuat dalam membuat teknologi.

Ada penelitian dosen, karya mahasiswa, capstone project, hasil kompetisi, prototipe, solusi IoT, AI, robotika, elektronika, sistem informasi, hingga produk yang dibangun berdasarkan kebutuhan nyata industri.

Sering kali persoalannya bukan lagi,
“Apakah alat ini bisa bekerja?”

Tetapi justru pertanyaan berikutnya:
Siapa yang membutuhkan?
Siapa yang mau membeli?
Berapa nilai ekonominya?
Bagaimana model bisnisnya?
Bagaimana diproduksi lebih banyak?
Dan bagaimana produk itu masuk pasar?

Di sinilah keberadaan program studi Bisnis Digital PENS menjadi menarik.

Bisnis Digital dapat menjadi penghubung antara kekuatan teknologi dengan realitas pasar. Membaca kebutuhan konsumen, melakukan validasi, membangun model bisnis, branding, pemasaran digital, analitik data, hingga membuka akses pasar.

Dengan bahasa sederhana:

Teknik membuat produknya. Bisnis Digital membantu membuat produk itu menemukan pembelinya.

Kalau dianalogikan sebagai sebuah sistem:
Riset adalah engine-nya.
Produk inovasi adalah device-nya.
Bisnis Digital adalah interface-nya.
Mitra industri adalah network-nya.
Pembiayaan adalah power supply-nya.
Market adalah user-nya.

PENS sudah sangat kuat pada engine dan device.

Tantangan berikutnya adalah memperkuat interface, network, dan power supply.

Karena teknologi yang hebat tetapi tidak terkoneksi dengan pasar ibarat….

device canggih yang berdiri sendiri tanpa network.

Ia bekerja, tetapi manfaat dan skalanya terbatas.

Maka hilirisasi inovasi PENS jangan berhenti pada:
RESEARCH → PROTOTYPE → SELESAI

Tetapi bergerak menjadi:
RESEARCH → PRODUCT → BUSINESS MODEL → DIGITAL MARKET → INDUSTRY → FINANCING → SCALE-UP → IMPACT

Lalu di mana ekonomi syariahnya?
Menurut saya justru di sinilah peluang yang menarik.

Ekonomi syariah tidak perlu dimaknai bahwa setiap robot, aplikasi, sensor, atau produk PENS harus diberi tulisan “produk syariah.”

Bukan itu.

Ekonomi syariah dapat menjadi value system sekaligus financing ecosystem yang menyertai pertumbuhan inovasi.

Nilai dasarnya sangat relevan:
Well-being — teknologi akhirnya harus memberi manfaat.
Inclusive — manfaatnya tidak berhenti pada kelompok tertentu.
Mutual benefit — kampus berkembang, mahasiswa memperoleh pengalaman, industri mendapatkan solusi, investor memperoleh hasil, dan masyarakat mendapatkan manfaat.

Dan ketika sebuah produk sudah tervalidasi tetapi membutuhkan modal untuk tumbuh, pembiayaan syariah dapat menjadi salah satu alternatif power supply-nya.

FESyar sendiri memperlihatkan bahwa hubungan produk dengan pembiayaan itu nyata. Pada penyelenggaraan 2026 tercatat komitmen business matching pembiayaan Rp37,6 miliar, meningkat dari Rp29,66 miliar pada tahun sebelumnya. Hal ini disampaikan saat laporan di penutupan acara oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur (Jatim) Ibrahim.

Di situlah saya melihat sebuah kemungkinan baru bagi PENS.

Mahasiswa dan dosen menciptakan teknologi.
Bisnis Digital memvalidasi market dan membangun model bisnisnya.
Industri membantu produksi dan scale-up.
Lembaga pembiayaan menyediakan energi pertumbuhannya.
Digital marketplace mempertemukannya dengan pasar.

Akhirnya penelitian tidak berhenti menjadi prototype, tetapi berkembang menjadi:

PRODUCT → MARKET → BUSINESS → IMPACT

Mungkin sudah waktunya kita memperluas definisi keberhasilan sebuah inovasi kampus.

Bukan hanya ketika:

“alatnya berhasil bekerja.”

Tetapi ketika:
alatnya bekerja,
dipakai,
dibutuhkan,
dibeli,
dikembangkan industri,
dan akhirnya memberi manfaat.

PENS sudah memiliki engine yang luar biasa: teknologi, mahasiswa, dosen, riset, dan jejaring industri.
Kita juga sudah mempunyai Bisnis Digital sebagai salah satu interface menuju pasar.

Sekarang tugas besarnya adalah menghubungkan semuanya menjadi satu sistem.

PENS sudah hebat membuat device.

Sekarang saatnya menghubungkan device itu dengan network ekonomi.

Itulah inspirasi yang saya bawa dari pembukaan sampai penutupan FESyar Jawa 2026.

Dari Lab ke Market.
Dari Produk ke Bisnis.
Dari Inovasi ke Manfaat.

Karena inovasi terbaik bukan hanya yang berhasil dibuat, tetapi yang berhasil memberi manfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *