Opini - Sastra Teknik

Belajar di China, Merenungkan Indonesia

Ketika AI Mengajarkan Cara Melihat Indonesia

Bismillahirrahmanirrahim

Di tengah mengikuti pelatihan Artificial Intelligence (AI) di China, saat waktu istirahat maupun pada malam hari setelah pelatihan, saya menyempatkan membaca berita dan media sosial dari Indonesia.

Salah satu yang ramai menjadi perhatian adalah rencana aksi demonstrasi besar-besaran yang banyak diperbincangkan. Suasana tersebut juga tampak dari berbagai langkah antisipasi di sejumlah kota besar.

Misalnya, beredar foto dan video yang memperlihatkan beberapa pusat perbelanjaan memasang pagar pengaman yang lebih tinggi dan kokoh sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi situasi yang diperkirakan akan terjadi.

Melihat berbagai informasi tersebut, saya memilih untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Justru saya ingin belajar melihat persoalan sebagaimana AI diajarkan untuk mengambil keputusan.

Saya datang ke China untuk belajar kecerdasan buatan. Namun pada saat yang sama, saya justru diingatkan tentang pentingnya menggunakan kecerdasan sebagai manusia.


Bukan Mendukung Siapa, tetapi Mendukung Nilai

Sebelum melangkah lebih jauh, izinkan saya menyampaikan satu hal.
Tulisan ini bukan tentang mendukung siapa, melainkan mendukung nilai.

Bukan soal mendukung pemerintah atau pengkritiknya.
Yang saya dukung adalah nilai kejujuran, keadilan, kemanfaatan, dan persatuan.

Karena nilai harus selalu lebih tinggi daripada orangnya. Orang dapat berganti, jabatan dapat berganti, pemerintahan dapat berganti. Namun nilai tidak boleh ikut berubah.

Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, saya semakin bertanya kepada diri sendiri.

Apakah kita sedang menjadi penerus perjuangan para pahlawan, atau tanpa sadar ikut memperlebar perpecahan bangsa?


Menjadi Fair Man

Dalam sepak bola kita mengenal istilah fair play.

Saya menyukai istilah itu.
Karena sejatinya bukan hanya sepak bola yang membutuhkan fair play, tetapi juga kehidupan.

Kadang ketika bercanda dengan teman atau berkenalan dengan orang baru, saya berkata,

“Perkenalkan, nama saya Fair Man… atau kalau dibaca cepat, Firman.”

Tentu hanya candaan ringan. Senyum donk 🙂

Namun semoga candaan itu menjadi pengingat bagi diri saya sendiri untuk terus belajar menjadi manusia yang fair, yang adil.

Adil menerima informasi.
Adil mengkritik.
Adil mengapresiasi.

Karena yang layak kita bela bukanlah orangnya, melainkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemanfaatan.

Karena pada akhirnya, yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah bukan siapa yang kita bela, tetapi apakah kita telah berusaha membela kebenaran.


AI Mengajarkan Cara Mengambil Keputusan

Pelatihan AI di China mengajarkan bahwa sebuah sistem hanya dapat bekerja dengan baik apabila memiliki tiga pilar utama: Data. Algoritma. Komputasi.

Tiga kata sederhana ini ternyata tidak hanya penting bagi mesin. Semakin saya renungkan, ketiganya juga menjadi fondasi bagi sebuah bangsa dalam mengambil keputusan.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri.

Jika sebuah mesin membutuhkan tiga pilar agar tidak salah mengambil keputusan, bukankah manusia, bahkan sebuah bangsa, jauh lebih membutuhkan prinsip yang sama?

Pilar Pertama: Data yang Benar

Dalam dunia teknik, sebuah sistem hanya akan bekerja sebaik data yang diterimanya.

Bayangkan sebuah sensor suhu pada AC mengalami kerusakan. Sensor membaca suhu 100°C, padahal suhu sebenarnya hanya 30°C.

Apa yang terjadi?

AC akan mengambil keputusan yang salah. Bukan karena AC-nya rusak, melainkan karena data yang diterimanya keliru.

Di dunia AI ada prinsip yang sangat terkenal:
Garbage In, Garbage Out.
Jika data yang masuk salah, hasil akhirnya juga akan salah.

Bukankah kehidupan kita sering demikian?

Informasi hari ini menyebar jauh lebih cepat daripada proses verifikasi.

Foto lama dapat diunggah kembali seolah-olah baru terjadi.
Video lama dipotong, lalu diberi narasi baru.
Bahkan dengan perkembangan AI, gambar, suara, dan video dapat dimanipulasi sehingga tampak sangat meyakinkan.

Akibatnya, banyak orang langsung marah, kecewa, atau menyebarkan informasi tersebut tanpa sempat memeriksa kebenarannya.

Padahal yang bermasalah belum tentu peristiwanya.

Bisa jadi yang bermasalah adalah data yang kita terima.

Karena itu, sebelum berkomentar, sebelum membagikan sebuah unggahan, bahkan sebelum mengambil sikap, biasakan bertanya:

  • Benarkah informasi ini?
  • Kapan peristiwa ini terjadi?
  • Siapa sumbernya?
  • Apakah sudah diverifikasi?

Dalam AI, kualitas keputusan ditentukan oleh kualitas data.
Dalam kehidupan berbangsa pun demikian.

Pilar Kedua: Algoritma yang Benar

Data yang benar saja belum cukup.

AI membutuhkan algoritma yang benar agar mampu menghasilkan keputusan yang benar.

Dalam kehidupan berbangsa, algoritma itu adalah konstitusi, hukum, etika, dan nilai-nilai luhur bangsa.

Dalam dunia rekayasa, kita selalu membedakan antara desain dan implementasi. Sebuah desain yang baik bisa gagal karena implementasinya buruk.

Karena itu, ketika mengevaluasi sebuah kebijakan, kita perlu mampu membedakan antara tujuan yang ingin dicapai dan cara tujuan itu dilaksanakan.

Sebagai contoh, ketika muncul perdebatan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menurut saya pertanyaan pertama bukanlah setuju atau tidak setuju.

Pertanyaannya adalah:
Apakah anak-anak Indonesia yang kekurangan gizi layak mendapatkan makanan bergizi?

Jika jawabannya “iya”, maka tujuan besarnya adalah tujuan yang baik.

Kalaupun dalam pelaksanaannya ada penyimpangan, salah sasaran, atau bahkan korupsi, maka itulah yang harus diperbaiki.

Hal yang sama berlaku pada Koperasi Merah Putih.

Semangat koperasi bukanlah gagasan baru bagi bangsa ini.
Bung Hatta menempatkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia.
Sedangkan Bung Karno menegaskan pentingnya ekonomi yang berlandaskan gotong royong.

Keduanya meyakini bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan modal, tetapi juga oleh kekuatan kebersamaan.

Jika dalam pelaksanaannya terdapat penyimpangan, maka yang dibenahi adalah pelaksanaannya, bukan semangat membangun ekonomi kerakyatannya.

Dalam dunia teknik, kita tidak mengganti seluruh mesin hanya karena satu bautnya longgar.
Kita memperbaiki bautnya agar mesin kembali bekerja sebagaimana mestinya.

Pilar Ketiga: Komputasi yang Adil

Setelah data benar dan algoritma benar, AI masih membutuhkan komputasi agar seluruh proses benar-benar dijalankan.

Dalam kehidupan berbangsa, komputasi itu adalah penegakan hukum.

Saya membayangkannya seperti sistem proteksi pada jaringan listrik.

Sensor membaca kondisi.
Relay proteksi mengambil keputusan.
Lalu Circuit Breaker (CB) mengeksekusi keputusan tersebut.

Jika sensor salah, keputusan salah.
Jika relay benar tetapi CB tidak bekerja, gangguan akan menyebar ke seluruh sistem.

Negara juga demikian.

Data harus benar.
Aturan harus benar.
Penegakan hukum harus benar.
Tidak tajam ke bawah dan tidak tumpul ke atas.


Refleksi untuk Indonesia

Saya datang ke China untuk belajar AI.

Namun pelajaran terbesar yang saya bawa pulang bukan hanya tentang teknologi.
Melainkan tentang bagaimana sebuah bangsa seharusnya mengambil keputusan.

Mulailah dari data yang benar.
Peganglah aturan yang benar.
Tegakkan hukum dengan benar.

Bangsa yang besar bukan dibangun oleh orang-orang yang selalu sepakat.
Bangsa yang besar dibangun oleh orang-orang yang tetap mampu berlaku adil meskipun sedang berbeda pendapat.

Karena AI mengajarkan bahwa kualitas keputusan bergantung pada kualitas data.

Jangan sampai mesin lebih teliti daripada manusia yang telah diberi akal, hati, dan petunjuk dari Allah.

Sebab tujuan kita bukan sekadar menjadi bangsa yang maju teknologinya.
Tetapi menjadi bangsa yang maju ilmu, akhlak, dan persatuannya.

Doa untuk Indonesia

Ya Allah, berkahilah Indonesia. Limpahkan hidayah kepada para pemimpinnya agar senantiasa diberi kebijaksanaan, kejujuran, dan keberanian dalam menghadirkan keadilan serta kemaslahatan bagi seluruh rakyatnya.

Persatukan hati kami sebagai satu bangsa. Jauhkan negeri ini dari fitnah, kebencian, permusuhan, dan perpecahan. Tumbuhkan semangat gotong royong, saling menghormati, dan saling menguatkan di tengah segala perbedaan.

Bimbinglah kami agar tetap mencintai Indonesia dengan mencintai nilai-nilai yang Engkau ridhai. Kejujuran, keadilan, amanah, persatuan, dan kemanfaatan. Sebab ketika nilai-nilai itu hidup, insya Allah bangsa ini akan tetap berdiri kokoh.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *