Membangun Diri, Membuka Jaringan, dan Menjaga Kompas di Tengah Perubahan
Ada kalanya sebuah tema datang pada waktu yang terasa sangat tepat.
Saat masih mengikuti pelatihan Artificial Intelligence di China, saya menerima undangan dari kampus untuk mengisi PKKMB PENS 2026.
Temanya:
“Future Ready: AI, Digital Skills, and What’s Next.”
Sebuah tema yang menarik.
Bukan hanya karena ada kata AI di dalamnya.
Justru dua kata lainnya membuat saya berpikir lebih jauh:
Future Ready.
Siap menghadapi masa depan.
Tema tersebut akan saya sampaikan kepada mahasiswa baru PENS pada Jumat, 14 Agustus 2026. Dalam TOR, pembahasannya bukan hanya AI, tetapi juga kesempatan yang lahir dari kerja sama institusi, integritas akademik, serta etika penggunaan teknologi informasi dan komunikasi digital.
Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri:
Apa sebenarnya arti “siap menghadapi masa depan”?
Masa Depan Tidak Bisa Kita Tebak
Beberapa tahun yang lalu, mungkin belum banyak mahasiswa membayangkan bahwa generative AI akan digunakan hampir setiap hari.
Sekarang AI sudah bisa membantu menulis.
Membuat gambar.
Membuat program.
Menganalisis data.
Menerjemahkan bahasa.
Bahkan menjadi teman berdiskusi.
Lalu empat tahun ke depan akan seperti apa?
Kita tidak tahu.
Boleh jadi teknologi yang hari ini terasa sangat canggih, beberapa tahun lagi menjadi sesuatu yang biasa.
Karena itu menurut saya:
Future Ready bukan kemampuan menebak masa depan.
Future Ready adalah kemampuan mempersiapkan diri agar tetap dapat tumbuh ketika masa depan berubah.
Tools boleh berubah.
Platform boleh berganti.
Teknologi boleh semakin pintar.
Tetapi manusia harus tetap mempunyai kemampuan untuk:
belajar, beradaptasi, bekerja sama, dan mengambil keputusan.
AI Hanyalah Salah Satu Pengungkit
Dalam tulisan sebelumnya, “Dari AI + X Menjadi AI × X”, saya membahas lebih khusus bagaimana AI dapat menjadi faktor pengali bagi kemampuan yang sudah melekat dalam diri manusia.
Saya tidak ingin mengulanginya panjang di sini.
Cukup satu pengingat:
AI akan jauh lebih berguna ketika kita mempunyai sesuatu yang layak untuk diperkuat.
Karena itu “pekerjaan” mahasiswa bukan hanya mempelajari AI.
Tetapi juga membangun pengetahuan.
Keterampilan.
Karakter.
Komunikasi.
Kreativitas.
Dan kemampuan bekerja bersama orang lain.
Tulisan lengkap mengenai gagasan tersebut dapat dibaca di:
Namun setelah potensi diri dibangun, ada hal lain yang tidak kalah penting.
Kita tidak tumbuh sendirian.
Masa Depan Juga Dibangun oleh Network
Di dunia teknologi, kita mengenal komputer yang bekerja sendiri.
Tetapi ketika persoalannya semakin besar, kita membutuhkan jaringan.
Komputer terhubung dengan komputer lain.
Sistem terhubung dengan sistem lain.
Komputasi dapat dilakukan secara paralel.
Kapasitas pun meningkat.
Manusia juga demikian.
Ada banyak hal yang sulit kita capai sendirian.
Di sinilah network menjadi penting.
Network bukan sekadar berapa banyak nomor yang tersimpan di kontak.
Bukan pula berapa banyak followers di media sosial.
Network adalah hubungan yang melahirkan kepercayaan, kolaborasi, dan kesempatan.
Kampus mempunyai mitra industri.
Perguruan tinggi mempunyai mitra di dalam dan luar negeri.
Dosen mempunyai jejaring penelitian.
Mahasiswa mempunyai komunitas.
Alumni mempunyai jejaring dunia kerja.
Semua dapat saling terhubung.
Kampus Membuka Pintu, Mahasiswa Harus Siap Masuk
Inilah salah satu makna penting kerja sama institusi.
Bukan sekadar MoU.
Bukan sekadar dokumen yang ditandatangani.
Kerja sama seharusnya membuka kesempatan nyata bagi mahasiswa.
Pintu magang.
Sertifikasi.
Kompetisi.
Penelitian.
Pertukaran mahasiswa.
Proyek bersama industri.
Hingga kesempatan berkiprah secara global.
Bahkan dalam TOR PKKMB ini, salah satu poin yang secara khusus diminta adalah peran kerja sama institusi dalam pengembangan kesempatan mahasiswa.
Tetapi ada satu prinsip yang menurut saya penting:
Pintu yang terbuka tetap membutuhkan orang yang siap memasukinya.
Kesempatan bisa datang kepada siapa saja.
Namun kesempatan besar akan menghasilkan dampak besar ketika bertemu dengan kesiapan.
Saya menyederhanakannya menjadi:
Opportunity × Readiness = Impact
Kampus membuka kesempatan.
Network memperluas jalan.
Tetapi mahasiswa tetap harus mempersiapkan dirinya.
Jangan Hanya Menjadi Pintar, Jadilah Terpercaya
Di sinilah pembicaraan mengenai teknologi bertemu dengan sesuatu yang jauh lebih mendasar:
Integritas.
Semakin hebat teknologi, semakin mudah banyak pekerjaan dilakukan.
Tugas yang dahulu membutuhkan beberapa jam, sekarang mungkin dapat diselesaikan dalam hitungan menit.
Pekerjaan yang dahulu terasa berat, dengan bantuan AI menjadi jauh lebih ringan.
Tetapi justru di situlah muncul tantangan baru.
Ketika teknologi meringankan beban pekerjaan, integritas memikul beban yang semakin besar.
Teknologi dapat membantu kita menghasilkan sesuatu dengan cepat.
Tetapi teknologi tidak dapat menggantikan kejujuran kita.
Teknologi dapat membuat tulisan.
Membuat program.
Membuat gambar.
Membantu analisis.
Bahkan memberikan jawaban yang terlihat sangat meyakinkan.
Namun pada akhirnya, manusialah yang harus bertanggung jawab terhadap apa yang digunakan, diklaim, dan disebarkan.
Di PENS kita mempunyai jargon yang sederhana:
JOSS
Jujur. Orisinil. Semangat. Santun.
Menurut saya, justru di era AI nilai-nilai ini semakin relevan.
Jujur, dalam mengakui proses dan penggunaan AI.
Orisinil, karena teknologi boleh membantu, tetapi pemahaman, gagasan, dan tanggung jawab tetap harus tumbuh dari diri kita.
Semangat, karena AI seharusnya membuat kita semakin produktif belajar, bukan semakin malas berpikir.
Dan Santun, karena kecanggihan teknologi tidak pernah menjadi alasan untuk kehilangan adab kepada sesama.
Jadi ketika AI dapat mengerjakan semakin banyak hal, pertanyaannya bukan lagi hanya:
“Apakah AI bisa mengerjakannya?”
Sering kali jawabannya:
Bisa.
Tetapi bagi orang yang mempunyai integritas, ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
“Apakah ini benar untuk saya lakukan?”
Di situlah JOSS menjadi penting.
Bukan sekadar jargon kampus.
Tetapi menjadi kompas ketika teknologi memberi kita semakin banyak pilihan.
Use AI to Learn
AI membantu menjelaskan materi?
Bagus.
AI membantu menguji program?
Bagus.
AI memberikan kritik terhadap tulisan?
Bagus.
AI menjadi sparring partner untuk menguji gagasan?
Bagus.
Tetapi ketika AI digunakan untuk melewati seluruh proses belajar, kemudian hasilnya diakui sebagai kemampuan sendiri, persoalannya bukan lagi pada teknologinya.
Persoalannya ada pada integritas manusianya.
Karena itu saya menyukai kalimat sederhana ini:
Use AI to learn, not to avoid learning.
Gunakan AI agar kita lebih banyak belajar.
Bukan agar kita tidak perlu belajar.
Teknologi Membutuhkan Kompas
Semakin cepat kendaraan bergerak, semakin penting kendalinya.
Semakin besar daya sebuah sistem, semakin penting proteksinya.
Demikian pula teknologi.
Semakin powerful teknologi yang kita miliki, semakin diperlukan:
kompas etika.
Menurut saya, setidaknya ada empat arah sederhana yang perlu dibawa mahasiswa ketika hidup di dunia digital.
Verify
Jangan mudah percaya.
AI bisa salah.
Informasi di media sosial juga bisa salah.
Biasakan memeriksa sebelum mempercayai dan menyebarkan.
Disclose
Jujurlah ketika menggunakan AI.
Jangan mengklaim sesuatu sepenuhnya karya kita ketika sesungguhnya ada bantuan teknologi yang signifikan di dalamnya.
Respect
Di balik layar tetap ada manusia.
Jangan menggunakan teknologi untuk merendahkan, mempermalukan, memfitnah, atau merusak martabat orang lain.
Protect
Tidak semua data boleh diberikan kepada AI.
Tidak semua foto boleh disebarkan.
Tidak semua informasi pribadi layak menjadi konsumsi publik.
Data juga bagian dari amanah.
Digital Skill Bukan Sekadar Bisa Menggunakan Gadget
Generasi mahasiswa baru hampir semuanya mahir menggunakan smartphone.
Tetapi kemampuan digital jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan mengoperasikan aplikasi.
Mampu mencari informasi belum tentu mampu menilai kebenarannya.
Mampu menggunakan AI belum tentu memahami batas dan risikonya.
Mampu melihat data belum tentu mampu membaca maknanya.
Mampu membuat konten belum tentu mampu berkomunikasi secara bertanggung jawab.
Karena itu mahasiswa masa depan setidaknya membutuhkan:
Information Literacy.
Kemampuan mencari, menilai, dan memverifikasi informasi.
AI Literacy.
Memahami apa yang AI bisa lakukan sekaligus memahami keterbatasan, bias, dan kemungkinan kesalahannya.
Data Literacy.
Tidak sekadar membaca angka, tetapi memahami pola dan makna di baliknya.
Communication Skill.
Mampu menulis, berbicara, berkolaborasi, dan menyampaikan gagasan dengan baik.
Teknologinya digital.
Tetapi fondasinya tetap manusia.
Jadi, Apa Arti Future Ready?
Semakin saya memikirkan tema ini, semakin saya merasa bahwa Future Ready bukan tentang menjadi manusia yang paling cepat mengejar setiap teknologi baru.
Future Ready adalah menjadi manusia yang mempunyai fondasi cukup kuat untuk terus belajar ketika teknologi berubah.
Punya kompetensi.
Punya rasa ingin tahu.
Punya network.
Punya integritas.
Punya etika.
Dan punya keberanian untuk terus bertumbuh.
Kampus dapat membuka pintu.
Industri dapat memberikan kesempatan.
AI dapat memberikan leverage.
Network dapat memperluas jalan.
Tetapi pada akhirnya:
kitalah yang harus memutuskan akan menjadi manusia seperti apa ketika semua kesempatan itu datang.
Mungkin itulah salah satu pesan yang ingin saya bawa pulang dari China untuk bertemu mahasiswa baru PENS nanti.
Bukan sekadar:
“Belajarlah menggunakan AI.”
Tetapi:
“Persiapkan dirimu untuk masa depan.”
Bangun kemampuanmu.
Perluas jaringanmu.
Manfaatkan setiap kesempatan.
Gunakan teknologi dengan cerdas.
Pegang JOSS.
Dan ketika teknologi menjadi semakin hebat,
pastikan kompasmu juga semakin kuat.
Karena masa depan bukan hanya membutuhkan manusia yang pintar menggunakan teknologi.
Masa depan membutuhkan manusia yang layak dipercaya ketika menggunakan teknologi.
InsyaAllah



