Kehidupan Berjalan Seperti Algoritma (3)
Dalam organisasi, pemimpin sesungguhnya adalah perancang algoritma.
Ia tidak harus melakukan semua pekerjaan.
Tetapi memastikan langkah-langkah menuju tujuan tersusun dengan benar.
Pemimpin yang baik memahami urutan.
Mana yang harus didahulukan.
Mana yang bisa ditunda.
Mana yang menjadi prioritas.
Mana yang menjadi penghambat.
Dalam dunia pemrograman, kesalahan satu baris algoritma dapat menyebabkan program gagal berjalan.
Dalam organisasi, kesalahan satu keputusan strategis dapat membuat seluruh tim bergerak ke arah yang salah.
Karena itu pemimpin bukan sekadar orang yang berada di depan.
Pemimpin adalah orang yang mampu menyusun algoritma terbaik agar seluruh tim dapat mencapai tujuan secara efektif.
Mahasiswa teknik tentu mengenal istilah debugging.
Program sudah dibuat.
Logika sudah dirancang.
Tetapi hasilnya tidak sesuai harapan.
Maka dilakukan pencarian kesalahan.
Baris demi baris diperiksa.
Alur demi alur ditelusuri.
Menariknya, kehidupan juga demikian.
Ketika target tidak tercapai.
Ketika organisasi kehilangan arah.
Ketika keluarga mengalami masalah.
Mungkin yang dibutuhkan bukan menyalahkan orang lain.
Tetapi melakukan debugging.
Mencari letak kesalahannya.
Apakah visinya masih jelas?
Apakah misinya masih relevan?
Apakah langkah-langkahnya masih mendukung tujuan?
Setelah debugging selesai, masih ada satu tahap lagi, yaitu optimasi.
Karena organisasi yang hebat bukan organisasi yang paling sibuk.
Tetapi organisasi yang paling efektif mencapai tujuan.
Begitu pula kehidupan.
Tidak semua kegiatan harus dilakukan.
Tidak semua undangan harus dihadiri.
Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Ada saatnya kita mengoptimalkan energi, pikiran, dan waktu untuk hal-hal yang benar-benar penting.
Jika coding mengajarkan kita menyusun langkah untuk menggerakkan komputer, maka organisasi mengajarkan kita menyusun langkah untuk menggerakkan manusia.
Keduanya berbeda objek.
Tetapi memiliki logika yang sama.
Tujuan yang jelas.
Langkah yang terukur.
Evaluasi yang berkelanjutan.
Dan optimasi yang terus-menerus.
Karena pada akhirnya, sadar atau tidak, setiap manusia sedang menjalankan algoritma kehidupannya masing-masing.
Dan mungkin di situlah letak keindahan ilmu teknik.
Semakin dalam dipahami, semakin kita menyadari bahwa ia tidak hanya hidup di laboratorium atau layar komputer.
Ia hidup di organisasi.
Ia hidup di keluarga.
Ia hidup di masyarakat.
Bahkan ia hidup dalam diri kita sendiri.
Sebab kehidupan, sesungguhnya, berjalan seperti algoritma.



