Opini - Perjalanan Spiritual - Sastra Teknik

China: Dari Hadnin ke Negeri Teknologi

Ketika Mimpi Bertemu dengan Rencana Allah

“Tidak semua yang kita impikan menjadi takdir kita. Namun setiap takdir yang Allah tetapkan, jika kita beriman, selalu mengandung kebaikan.”

Ketika Mimpi Tak Menjadi Nyata

Pernahkah kita mengalami dua keadaan yang sangat berbeda?

Pertama, kita memiliki sebuah mimpi yang begitu besar. Kita merencanakannya dengan matang, memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh, bahkan sampai terbawa ke dalam mimpi.

Berkali-kali kita memikirkannya.
Berkali-kali pula kita memanjatkannya dalam doa.
Namun akhirnya, semua itu tidak menjadi kenyataan.

Kedua, ada sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita rencanakan. Tidak pernah masuk dalam daftar mimpi. Bahkan tidak pernah terlintas dalam benak. Tiba-tiba Allah menghadirkannya dalam kehidupan kita.

Saya yakin, hampir setiap orang pernah merasakan kedua keadaan tersebut.

Dari sinilah saya belajar bahwa kita boleh memiliki mimpi setinggi langit. Kita wajib berikhtiar dan berdoa sekuat tenaga. Namun setelah itu, ada satu tahap yang tidak boleh kita lupakan, yaitu tawakal.

Karena sebaik apa pun kita merencanakan, Allah-lah Yang Maha Mengatur.

Perjalanan yang Tak Pernah Kumimpikan

Hari ini, Sabtu 1 Agustus 2026. Dengan mengucap Bismillah, saya memulai perjalanan menuju China.

Sejujurnya, ini bukanlah negara yang sejak kecil saya impikan untuk dikunjungi. Saya tidak pernah menuliskan China sebagai target hidup. Tidak pernah membayangkan suatu hari akan belajar atau melakukan perjalanan ke sana.

Yang justru saya ingat adalah sebuah ungkapan yang sangat populer sejak kecil, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.” Belakangan saya mengetahui bahwa ungkapan tersebut bukan hadis yang sahih. Namun semangat mencari ilmu hingga ke mana pun tetap merupakan ajaran Islam yang sangat mulia.

Ternyata Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk mempertemukan seseorang dengan jalan hidupnya.

Bukan selalu melalui mimpi yang kita susun.

Tetapi melalui rencana yang telah Dia siapkan.

Hadnin: Sebuah Kenangan Ayah

Kalau mengingat China, ingatan saya justru kembali kepada almarhum ayahanda.

Beliau sering mengucapkan satu istilah yang unik.
Hadnin.
Singkatan dari “barang beli Ahad, rusak Senin.”

Kalimat sederhana itu digunakan beliau untuk menggambarkan sebagian barang murah yang saat itu kualitasnya belum baik. Dibeli hari Ahad (minggu), hari Senin sudah rusak.

Sebagai anak kecil, istilah itu begitu melekat dalam ingatan saya.
Setiap mendengar kata China, yang terlintas justru Hadnin.

Kini saya tersenyum sendiri ketika mengingatnya.
Bukan karena ayah saya salah.
Tetapi karena zaman memang telah berubah.

Ketika Dunia Berubah

Hari ini, dunia mengenal China dengan wajah yang berbeda.

Kereta cepat.
Kecerdasan buatan.
Kendaraan listrik.
Robotika.
Manufaktur berteknologi tinggi.

Semuanya menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan, kerja keras, disiplin, dan inovasi mampu mengubah wajah sebuah bangsa.

Perubahan itu mengajarkan saya satu hal.
Jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan pengalaman masa lalu.

Karena manusia bisa berubah.
Bangsa bisa berubah.
Teknologi bisa berubah.
Bahkan cara pandang kita pun harus berubah.

Jangan Membatasi Rencana Allah

Bukankah kehidupan kita juga demikian?

Sering kali kita mengira kebahagiaan hanya ada pada satu jalan.
Satu pekerjaan.
Satu jabatan.
Satu proyek.
Satu kota.
Atau bahkan satu negara.

Padahal Allah mampu membuka pintu-pintu lain yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.

Kadang yang paling kita kejar justru tidak Allah berikan.
Sebaliknya, yang tidak pernah kita impikan justru Allah hadiahkan.

Karena itu, jangan pernah membatasi rencana Allah hanya sebatas mimpi kita.

Surga adalah Tujuan Terbesar

Lalu, apa sebenarnya tujuan terbesar hidup kita?
Apakah hanya daftar mimpi dari A sampai Z?

Rumah yang lebih besar.
Jabatan yang lebih tinggi.
Usaha yang lebih maju.
Perjalanan ke berbagai negara.

Semuanya baik.
Namun semuanya akan berhenti di dunia.

Sebagai seorang muslim, kita memiliki visi yang jauh lebih besar.
Surga.

Jika surga menjadi tujuan utama, maka semua mimpi dunia hanyalah kendaraan, bukan tujuan akhir.

Allah memberi, kita bersyukur.
Allah menunda, kita bersabar.
Allah mengganti, kita tetap bersyukur.

Karena kita yakin, Dia lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Bermimpi, Berikhtiar, Bertawakal

Maka jangan pernah berhenti bermimpi.
Jangan pernah berhenti belajar.
Jangan pernah lelah berikhtiar.
Jangan pernah putus berdoa.

Lalu bertawakallah.

Boleh jadi kita tidak pernah sampai pada semua mimpi kita.

Namun jika pada akhirnya Allah mengantarkan kita menuju ridha-Nya dan surga-Nya, bukankah itu berarti kita telah sampai pada tujuan yang sesungguhnya?

Tidak semua mimpi harus menjadi nyata.
Yang terpenting, semoga setiap langkah kita menjadi jalan menuju ridha Allah.
Menjadi jalan untuk terus belajar,
terus memberi manfaat,
dan pada akhirnya menjadi jalan menuju surga-Nya.
Aamiin.

* @Bandara Soetta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *