Tidak Ada Sistem yang Berjalan Tanpa Roadmap
Tidak ada programmer yang membangun aplikasi tanpa algoritma.
Tidak ada insinyur yang merancang jembatan tanpa gambar kerja.
Tidak ada sistem kendali yang bekerja tanpa desain.
Bahkan GPS pun tidak dapat mengantarkan kita ke tujuan tanpa mengetahui titik awal, rute, dan tujuan akhirnya.
Lalu mengapa manusia, makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah, sering menjalani kehidupan tanpa memahami roadmap yang telah disiapkan oleh Penciptanya?
Padahal Allah telah menurunkan petunjuk itu melalui Al-Qur’an.
Al-Qur’an Bukan Sekadar Dibaca
Selama ini banyak di antara kita mengenal Al-Qur’an sebagai kitab ibadah, kitab hukum, kitab kisah para nabi, atau kitab yang dibaca untuk memperoleh pahala.
Semua itu benar.
Namun ada satu sisi yang sering luput kita renungkan.
Al-Qur’an juga merupakan roadmap kehidupan manusia.
Sejak manusia masih berada di dalam rahim, lahir ke dunia, tumbuh menjadi anak, belajar menuntut ilmu, bekerja mencari rezeki, membangun rumah tangga, mendidik anak, berbakti kepada orang tua, menghadapi berbagai ujian kehidupan, hingga akhirnya kembali menghadap Allah, semuanya mendapatkan petunjuk di dalam Al-Qur’an.
Bahkan setelah kematian, Al-Qur’an masih membimbing kita dengan penjelasan tentang alam barzakh, hari kebangkitan, hisab, hingga surga dan neraka.
Mengapa Saya Menulis Serial Ini?
Sebagai seorang dosen teknik, saya terbiasa melihat dunia melalui cara berpikir sistematis.
Dalam rekayasa, setiap sistem memiliki arsitektur.
Setiap proses memiliki algoritma.
Setiap input akan menghasilkan output sesuai proses yang dilaluinya.
Ternyata, cara berpikir seperti ini juga membantu kita memahami Al-Qur’an.
Karena itu, dalam setiap artikel nanti kita tidak hanya akan mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga mencoba memahaminya melalui berbagai analogi ilmu teknik, seperti Teknik Elektro, Teknik Informatika, fisika, matematika, kecerdasan buatan, sistem kendali, jaringan komputer, maupun disiplin ilmu rekayasa lainnya.
Bukan untuk membuktikan Al-Qur’an dengan sains.
Sebaliknya, analogi ilmu teknik digunakan sebagai bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan modern sehingga pesan-pesan Al-Qur’an semakin mudah dipahami dan diterapkan.
Selain itu, setiap pembahasan juga akan dikaitkan dengan kehidupan keluarga, pendidikan, organisasi, kepemimpinan, dan kehidupan sosial bermasyarakat.
Harapannya, Al-Qur’an tidak hanya selesai dibaca, tetapi benar-benar menjadi pedoman dalam berpikir, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan.
Roadmap yang Akan Kita Susuri
InsyaAllah, kita akan berjalan bersama mengikuti urutan perjalanan manusia.
Dari rahim.
Menjadi bayi.
Tumbuh sebagai anak.
Menuntut ilmu.
Memilih pasangan hidup.
Membangun keluarga.
Mencari rezeki yang halal.
Menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Berbakti kepada orang tua.
Berbagi kepada sesama.
Mempersiapkan bekal menuju kematian.
Memasuki alam barzakh.
Menghadapi hari kebangkitan.
Menjalani hisab.
Hingga mencapai tujuan akhir, yaitu memperoleh ridha Allah dan memasuki surga.
Setiap fase akan kita bahas berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan, disertai tadabbur, analogi ilmu teknik, serta pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mari Belajar Bersama
InsyaAllah, serial ini akan hadir secara berkala, sekitar setiap dua atau tiga hari sekali. Apabila terdapat kesibukan yang tidak dapat dihindari, paling lambat satu artikel akan terbit setiap pekan.
Saya mengundang Bapak, Ibu, sahabat, mahasiswa, alumni, dan seluruh pembaca untuk mengikuti perjalanan ini dari awal hingga akhir. Saya juga membuka ruang diskusi, masukan, maupun koreksi agar kita dapat saling belajar dan saling menguatkan.
Karena pada akhirnya, kita semua sedang menempuh perjalanan yang sama.
Perjalanan dari rahim hingga kembali kepada Allah.
Jika setiap teknologi memiliki manual, maka manusia pun telah dibekali manual terbaik.
Manual itu adalah Al-Qur’an.
Dan jika setiap sistem memiliki algoritma, maka algoritma terbaik kehidupan adalah petunjuk Allah dalam Al-Qur’an.
Mari kita mulai perjalanan ini.
Dari rahim hingga surga.



