Opini - Sastra Teknik

Dari AI + X Menjadi AI × X

Jangan Sampai AI Semakin Pintar, Manusianya Berhenti Berpikir

Pada tulisan sebelumnya, saya mencoba menempatkan Artificial Intelligence dalam perjalanan pendidikan anak dan keluarga.

Fitrah → Keluarga → Tauhid → Ibadah → Adab → Ilmu → AI

AI datang belakangan.
Bukan karena AI tidak penting.
Justru sebelum teknologi memperkuat manusia, manusianya harus dibangun terlebih dahulu.

Lalu muncul pertanyaan berikutnya.
Ketika AI sudah berada di tangan kita dan anak-anak kita, bagaimana seharusnya ia digunakan?

Di sinilah saya teringat satu konsep yang saya pelajari selama mengikuti pelatihan Artificial Intelligence di China.


AI + X: Konsep yang Saya Pelajari di China

Ada satu konsep yang menarik perhatian saya:

AI + X.

AI tidak harus berdiri sendiri.
AI dapat dipadukan dengan berbagai bidang.

AI + Pendidikan.
AI + Kesehatan.
AI + Pertanian.
AI + Industri.
AI + Teknik Elektro.
AI + Multimedia.Dan berbagai X lainnya.

X adalah bidang kita.

Artinya, AI bukan hadir untuk menghilangkan bidang keilmuan dan kompetensi yang sudah kita miliki.
Justru AI hadir untuk memperkuatnya.

Tetapi setelah satu pekan belajar, mencoba, berdiskusi, dan merenungkan perjalanan AI ini, muncul sebuah pemikiran sederhana dalam diri saya.

Bagaimana kalau bukan hanya:

AI + X

tetapi:

AI × X


Mengapa Plus Menjadi Kali?

Tentu saya tidak sedang mengganti konsep AI + X yang saya pelajari.

Saya hanya mencoba melihatnya dari perspektif lain.
Perkalian.

Mengapa?
Karena bagi saya ada perbedaan menarik antara menambahkan dan melipatgandakan.

AI + X berarti AI datang menambahkan sesuatu pada bidang kita.

Sedangkan:

AI × X berarti AI menjadi pengungkit yang dapat melipatgandakan kapasitas kita.

Tetapi perkalian mempunyai konsekuensi.

Hasilnya sangat ditentukan oleh X.

Di sinilah renungan saya mulai bergeser.
X ternyata bukan sekadar bidang keilmuan.

X adalah:
manusia beserta seluruh kompetensi yang melekat pada dirinya.

X Bukan Hanya Kecerdasan

Ketika saya menyebut X, yang saya maksud bukan hanya kecerdasan akademik.

Bukan hanya IQ.
Bukan pula hanya kemampuan teknis.

X adalah keseluruhan kompetensi manusia.

Ada hard skill.
Ilmu.
Keahlian profesi.
Kemampuan teknis.
Membaca.
Menulis.
Berhitung.
Menganalisis.
Problem solving.

Tetapi manusia tidak hidup hanya dengan hard skill.
Ada pula soft skill.

Komunikasi.
Kreativitas.
Kerja sama.
Kepemimpinan.
Kedisiplinan.
Tanggung jawab.

Lalu ada sesuatu yang bahkan lebih mendasar:
karakter dan adab.

Ditambah pengalaman.
Nilai.
Dan hikmah kehidupan.

Semua itulah X kita.

Karena itu, pendidikan karakter dan kompetensi dasar tidak boleh dikorbankan demi kecanggihan teknologi.

Justru ketika AI semakin canggih:
X dalam diri manusia harus semakin diperbesar.

Berapa Nilai X Kita?

Mari bermain dengan matematika sederhana.

Bukan untuk membuat rumus ilmiah tentang manusia.

Tetapi sebagai analogi untuk merenung.

Bayangkan:

AI × X

Kalau:

X = 1

setidaknya kita mempunyai modal kompetensi yang bekerja bersama AI.

Secara matematika:

AI × 1 = AI

Artinya, kemampuan AI tidak kita perkecil.

Tetapi bagaimana jika:

X > 1?

Nah, di sinilah perkalian menjadi menarik.

Semakin kuat ilmu kita.
Semakin baik kemampuan berpikir kita.
Semakin matang komunikasi kita.
Semakin banyak pengalaman kita.
Semakin kuat karakter kita.

Maka AI berpotensi menjadi pengungkit yang jauh lebih besar.

AI yang sama, digunakan oleh dua manusia dengan X yang berbeda, dapat menghasilkan kualitas pemanfaatan yang sangat berbeda.

Bukan hanya karena AI-nya.

Tetapi karena manusianya.

Bagaimana Kalau X di Bawah Satu?

Lalu saya berpikir lagi.

Bagaimana kalau X bukan nol, tetapi berada di antara:

0 dan 1?

Secara matematika, sesuatu yang dikalikan bilangan antara nol dan satu justru akan mengecil.

Tentu saya tidak sedang memberi nilai angka kepada manusia.

Dan saya juga tidak mengatakan ada manusia yang tidak mempunyai potensi.

Setiap manusia mempunyai potensi.

Tetapi potensi dapat tidak berkembang jika tidak pernah dilatih.

Malas membaca.
Malas mencoba.
Malas menulis.
Malas menghitung.
Malas berdiskusi.
Malas mengalami proses.

Dan akhirnya:
malas berpikir.

Sedikit-sedikit bertanya AI.
Sedikit-sedikit meminta AI mengerjakan.

Kalau terus demikian, jangan-jangan bukan AI yang memperbesar kemampuan kita.

Sebelum AI, Kita Sudah Punya “Asisten” di Rumah

Saya kemudian teringat kehidupan sehari-hari.

Jauh sebelum Artificial Intelligence masuk ke rumah, sebagian keluarga sudah mengenal bentuk bantuan lain:
Asisten Rumah Tangga atau ART.

Tentu ART bukan AI.
Tetapi dari sisi fungsi membantu, ada analogi menarik.

Apakah mempunyai ART salah?
Tentu tidak.

ART sangat membantu keluarga.

Persis seperti AI yang sekarang sangat membantu pekerjaan kita.

Tetapi bayangkan seorang anak bangun tidur.

Tempat tidurnya?
ART yang merapikan.

Pulang sekolah, tas dilempar.
ART yang membereskan.

Sepatu dilepas sembarangan.
ART yang menata.

Mau mengambil minum?
Memanggil ART.

Membersihkan kamar?
ART.

Sedikit-sedikit:
“Mbak…”

Sedikit-sedikit:
“Biarkan ART saja.”

Apa yang mungkin terjadi?
ART-nya semakin terampil.

Tetapi anaknya justru tidak pernah belajar melakukan pekerjaan-pekerjaan dasar.

Bukan karena anak itu tidak mampu.
Tetapi karena ia tidak pernah dilatih.

Yang Dibangun Bukan Rumahnya, tetapi Manusianya

Di sinilah sebenarnya peran keluarga.

Tugas orang tua bukan meniadakan ART agar anak menjadi mandiri.
Bukan itu.

Orang tua harus mampu menentukan:

Mana yang boleh dibantu dan mana yang tetap harus dikerjakan anak sendiri.

Anak tetap belajar merapikan tempat tidurnya.
Menaruh sepatu pada tempatnya.
Membawa piringnya.
Menyiapkan kebutuhan pribadinya.
Membantu pekerjaan rumah sesuai usianya.

Mengapa?

Karena yang sedang dibangun bukan sekadar:
rumah yang rapi.

Yang sedang dibangun adalah:
manusianya.

Rumah mungkin lebih cepat rapi jika semuanya dikerjakan ART.

Tetapi pendidikan anak bukan hanya mengejar output.

Ada proses membangun kemandirian.

Tanggung jawab.
Disiplin.
Kepedulian.

Bukankah AI juga demikian?

Sedikit-Sedikit AI

Ada tugas?
AI.

Menulis?
AI.

Merangkum?
AI.

Mencari ide?
AI.

Membuat presentasi?
AI.

Membuat kesimpulan?
AI.

Sedikit-sedikit AI.
Sedikit-sedikit AI.

Jangan sampai akhirnya:
Berpikir? AI.

Tugas orang tua bukan melarang adanya bantuan, tetapi memastikan anak tidak kehilangan kemandirian karena semua dilayani.

Begitu pula dengan AI.

Tugas keluarga bukan menjauhkan anak dari AI, tetapi memastikan AI tidak mengambil alih proses yang seharusnya membentuk kemampuan anak.

AI boleh membantu.

Tetapi ada pekerjaan yang memang harus tetap dikerjakan manusia.

Karena di situlah:
X sedang dibangun.

Jangan Sampai Tugasnya Pintar, Anaknya Tidak

Dengan AI, seorang anak dapat menghasilkan tugas yang luar biasa.

Tulisan rapi.
Presentasi bagus.
Gambarnya indah.
Jawabannya lengkap.

Sekilas kita bangga.

Output-nya luar biasa.

Tetapi pertanyaannya:

Apakah kemampuan anaknya juga ikut meningkat?

Jangan sampai tulisannya semakin bagus, tetapi ia tidak memahami apa yang ditulis.

Presentasinya semakin hebat, tetapi ketika ditanya ia tidak mampu menjelaskan.

Jangan sampai tugasnya mendapat nilai 100,

tetapi proses berpikirnya mendekati nol.

Karena pendidikan bukan hanya menghasilkan output.

Pendidikan harus membangun:

manusia yang mampu menghasilkan output tersebut.

AI Membantu Proses, Bukan Menghilangkan Proses

Kemampuan berpikir perlu dilatih.

Anak perlu membaca.
Mencoba.
Bingung.
Salah.
Menganalisis.
Gagal.

Kemudian mencoba lagi.

Kita terkadang ingin anak mendapatkan jawaban dengan cepat.

Padahal boleh jadi:

proses mencari jawaban itulah bagian terpenting dari pendidikan.

Misalnya anak mendapat tugas menulis esai.

Jangan langsung meminta AI membuatkan esai utuh.

Biarkan anak membaca.
Memikirkan gagasannya.
Menyusun argumen.
Kemudian menulis drafnya sendiri.

Setelah itu, AI dapat digunakan untuk mengoreksi, memberikan saran, menguji argumen, atau memperkaya sudut pandang.

Jadi AI tetap membantu.

Tetapi:

proses berpikir anak tetap bekerja.

AI seharusnya bukan menggantikan proses berpikir kita.

Gunakan AI untuk membantu kita berpikir lebih baik.

Saya Menggunakan AI, tetapi Membawa X

Saya menulis ini bukan karena menolak AI.

Justru sebaliknya.

Saya menggunakan AI.
Saya mempelajarinya.
Saya berdiskusi dengannya.
Dan saya merasakan sendiri manfaatnya.

Tetapi saya mencoba menjaga satu prinsip:

Sebelum datang kepada AI, saya harus membawa X.

Saya membawa gagasan.
Pengalaman.
Ilmu yang pernah saya pelajari.
Persoalan.
Analogi.
Dan hasil perenungan dari berbagai perjalanan kehidupan.

Kemudian AI saya gunakan untuk berdiskusi.

Apakah gagasan ini masuk akal?
Apakah ada yang kurang?
Adakah data yang harus diperiksa?
Apakah analoginya tepat?
Bisakah pemikiran ini dirunut lebih baik?

Bahkan ketika pemikiran saya keliru:
tolong koreksi.

Di situlah AI menjadi sangat bermanfaat.

AI tidak mengambil alih X.
AI memperkuat X.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *