Hari pertama menginjakkan kaki di China memberikan kesan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Ketika Saya Belajar bahwa Kemacetan Bukan Sekadar Soal Banyaknya Kendaraan
Bahkan sebelum pesawat mendarat di Xiamen, saya terus memperhatikan pemandangan dari balik jendela. Hamparan gedung-gedung tinggi memenuhi cakrawala. Hampir semuanya berupa apartemen bertingkat. Sangat jarang terlihat rumah-rumah tapak sebagaimana yang biasa kita lihat di Indonesia.
Namun, ada satu hal yang justru lebih membuat saya berpikir.
Jalan rayanya lengang.
Padahal saat itu bukan tengah malam. Bukan pula waktu orang-orang sedang tidur. Masih jam-jam produktif.
Setelah transit dan bermalam di sebuah hotel di Xiamen, rasa penasaran itu semakin besar. Dari kamar di lantai sepuluh, saya kembali mengamati jalan raya di bawah sekitar pukul delapan hingga sembilan malam.
Hasilnya tetap sama.
Lalu lintas mengalir tenang. Kendaraan ada, tetapi tidak berjejal. Tidak ada antrean panjang seperti yang sering kita jumpai di kota-kota besar Indonesia.
Saya pun bertanya dalam hati,
“Apa sebenarnya yang mereka lakukan?”
Bukan Karena Penduduknya Sedikit
Naluri pertama kita mungkin berkata, “Mungkin penduduknya sedikit.”
Ternyata justru sebaliknya.
China dihuni sekitar 1,4 miliar penduduk, hampir lima kali jumlah penduduk Indonesia. Mobilnya pun mencapai ratusan juta unit.
Artinya, persoalannya bukan pada banyak atau sedikitnya manusia maupun kendaraan.
Yang berbeda adalah cara mengelola sistemnya.
Bukan Hanya Jalan, tetapi Ekosistem Transportasi
Pengamatan saya semakin lengkap ketika mulai berpindah dari satu kota ke kota lainnya.
Dari Bandara Xiamen menuju hotel, kami menggunakan bus bandara bertenaga listrik. Perjalanan sekitar tiga puluh menit terasa sangat halus dan nyaris tanpa suara mesin.
Saat kembali ke bandara, rombongan kami menggunakan beberapa unit Denza, mobil listrik yang juga memberikan pengalaman serupa.
Setibanya di Liuzhou, pemandangan itu kembali terulang. Mobil listrik dan sepeda motor listrik tampak mendominasi jalan-jalan kota. Sangat mudah mengenalinya karena sebagian besar menggunakan pelat nomor hijau, penanda kendaraan energi baru di China. Kendaraan berbahan bakar minyak memang masih ada, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit.
Saat itulah saya mulai memahami bahwa yang sedang dibangun China bukan sekadar kendaraan listrik.
Yang dibangun adalah sebuah ekosistem.
Hunian dibuat vertikal agar lahan lebih efisien.
Jalan dibangun berlapis dengan banyak jalur alternatif.
Transportasi publik diperkuat.
Kendaraan listrik didorong menjadi arus utama.
Teknologi mengatur lalu lintas secara real time.
Semuanya saling terhubung.
Seperti Merancang Sebuah Rangkaian Elektronika
Di dunia elektronika, kita tidak pernah menyelesaikan persoalan arus listrik hanya dengan memperbesar ukuran kabel.
Yang dirancang adalah keseluruhan sistem.
Tegangan.
Hambatan.
Distribusi beban.
Proteksi.
Jalur alternatif.
Jika seluruh arus dipaksa melewati satu jalur, panas akan muncul dan efisiensi turun.
Lalu lintas kota pun demikian.
Seperti Algoritma dalam Informatika
Dalam informatika, server yang lambat belum tentu karena datanya terlalu banyak.
Sering kali penyebabnya adalah algoritma yang kurang tepat.
Beban harus dibagi.
Data harus didistribusikan.
Cache harus dimanfaatkan.
Load balancing harus bekerja.
Tujuannya sederhana.
Jangan biarkan semua beban berkumpul di satu titik.
Kota yang baik juga bekerja dengan prinsip yang sama.
Upgrade Sistem, Bukan Sekadar Ganti Komponen
Sebagai orang teknik, saya melihat transformasi ini seperti melakukan upgrade sebuah sistem.
Mengganti mesin bensin menjadi motor listrik hanyalah satu komponen.
Kalau pembangkit listrik belum siap, stasiun pengisian belum tersedia, regulasi belum mendukung, dan masyarakat belum siap berubah, maka hasilnya tidak akan maksimal.
Sebuah sistem hanya akan bekerja optimal ketika seluruh komponennya bergerak bersama.
Di situlah saya melihat kekuatan China.
Mereka tidak sekadar membangun teknologi.
Mereka membangun ekosistem yang membuat teknologi itu bekerja.
Pelajaran untuk Kita
Sering kali kita berpikir solusi adalah menambah.
Tambah jalan.
Tambah gedung.
Tambah kendaraan.
Padahal yang sering kurang adalah desain sistemnya.
Organisasi pun sama.
Kalau semua keputusan harus melewati satu orang, organisasi akan macet.
Kalau semua informasi berhenti di satu meja, pekerjaan akan lambat.
Kalau semua orang menunggu instruksi, inovasi akan berhenti.
Bukan orangnya yang salah.
Sistemnya yang perlu diperbaiki.
Kehidupan Juga Memiliki Sistem
Semakin saya mengamati, semakin saya yakin bahwa ALLAH menciptakan alam semesta dengan keteraturan.
Planet memiliki orbit.
Darah memiliki sirkulasi.
Jantung memiliki irama.
Otak memiliki miliaran neuron yang saling terhubung.
Tidak ada yang bekerja sendiri.
Semuanya membentuk sebuah sistem yang harmonis.
Bukankah itu juga pelajaran bagi kehidupan kita?
Refleksi Diri
Perjalanan ini bukan sekadar melihat gedung-gedung tinggi, jalan yang lengang, atau kendaraan listrik yang lalu lalang.
Saya justru belajar bahwa kemajuan sebuah bangsa dibangun melalui cara berpikir yang sistematis.
Sebagai dosen teknik, saya melihatnya sebagai rancangan sistem yang matang.
Sebagai orang informatika, saya melihatnya sebagai algoritma yang efisien.
Sebagai bagian dari masyarakat, saya melihatnya sebagai tata kelola yang terintegrasi.
Dan sebagai seorang muslim, saya melihatnya sebagai pengingat bahwa Allah mencintai keteraturan, perencanaan, dan ikhtiar terbaik dari hamba-Nya.
Mungkin inilah pelajaran pertama yang saya bawa pulang nanti dari China.
Kemajuan bukan hanya soal teknologi yang canggih.
Kemajuan adalah kemampuan membangun sistem yang membuat teknologi, manusia, dan lingkungan bekerja secara selaras.
Karena pada akhirnya, bangsa yang maju bukanlah bangsa yang memiliki sumber daya paling banyak, melainkan bangsa yang mampu mengelola sumber dayanya dengan sebaik-baiknya.



