Jangan biarkan rasa sakit mengubah algoritma keadilan dalam diri kita.
Tidak ada orang yang ingin didzalimi. Namun dalam kehidupan, ujian sesungguhnya sering kali bukan ketika kita menjadi korban, melainkan ketika kita diberi kesempatan untuk membalas. Akankah kita tetap adil, atau justru berubah menjadi orang yang lebih dzalim?
Sebagai dosen teknik, saya terbiasa mengambil keputusan berdasarkan data, bukan hanya berdasarkan satu sensor.
Dalam dunia rekayasa, satu sensor tidak pernah cukup untuk menyimpulkan kondisi sebuah sistem. Sensor bisa mengalami noise, bias, bahkan error. Karena itu, seorang insinyur selalu melakukan cross-check dengan sensor lain sebelum mengambil keputusan.
Bayangkan sebuah pembangkit listrik. Satu sensor suhu menunjukkan angka yang sangat tinggi. Jika operator langsung mematikan seluruh sistem tanpa verifikasi, kerugiannya bisa sangat besar.
Mengapa?
Karena bisa jadi sensor tersebut mengalami gangguan.
Oleh sebab itu, sistem industri memiliki redundansi sensor, kalibrasi, dan proses validasi sebelum sebuah keputusan diambil.
Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari kita sering melakukan kebalikannya.
Kita hanya menerima satu “sensor informasi”: cerita teman, potongan chat, video singkat, atau unggahan media sosial.
Padahal informasi itu belum tentu utuh. Namun kita sudah merasa paling tahu, lalu mengambil kesimpulan, bahkan menjadi “hakim” bagi orang lain.
Noise dalam Komunikasi
Dalam ilmu elektronika dan telekomunikasi dikenal istilah noise.
Sinyal yang awalnya bersih akan berubah ketika melewati berbagai media transmisi. Semakin panjang jalurnya, semakin besar kemungkinan sinyal tercampur gangguan.
Begitu pula dengan informasi.
Apalagi di era media sosial seperti sekarang.
Informasi menyebar jauh lebih cepat daripada proses klarifikasi. Satu unggahan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan menit.
Di saat yang sama, “pengadilan netizen” sering kali berjalan lebih cepat daripada proses mencari fakta.
Memang, tidak semua penilaian netizen keliru. Ada kalanya kritik publik justru membuka fakta yang selama ini tersembunyi.
Namun, tidak sedikit pula yang lahir dari informasi yang belum utuh, potongan video, cuplikan percakapan, atau narasi yang sudah bercampur opini.
Cerita A disampaikan kepada B.
B menceritakan kepada C.
C menyampaikan kepada D sambil menambahkan pendapatnya.
Begitu seterusnya.
Ketika sampai di Z, sering kali isi pesannya sudah jauh berbeda dari cerita awal.
Yang semula fakta mungkin hanya 20%, sedangkan 80% sisanya telah berubah menjadi asumsi, interpretasi, emosi, bahkan “bumbu-bumbu” yang terus berkembang.
Ironisnya, justru bagian 80% inilah yang sering lebih cepat dipercaya, dibagikan, lalu dijadikan dasar untuk menghakimi seseorang.
Padahal, bisa jadi orang yang menjadi objek pembicaraan belum pernah diberi kesempatan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya.
Karena itulah Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah (tabayyun), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya sehingga kamu menyesali perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Dalam bahasa teknik, tabayyun adalah proses validasi data.
Sebelum data dipakai, pastikan valid.
Sebelum mengambil keputusan, pastikan informasinya lengkap.
Sebelum menghakimi seseorang, pastikan kita sudah mendengar semua sisi.
Karena keputusan yang diambil dari data yang tidak lengkap hampir selalu menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Debugging Sebelum Menyalahkan
Seorang programmer yang baik tidak akan langsung berkata, “Program ini jelek.”
Ia akan melakukan debugging.
Mengecek log.
Mengecek variabel.
Mengecek input.
Mengecek konfigurasi.
Kadang masalahnya bukan pada sistem utama, melainkan hanya satu karakter yang salah.
Begitu pula dalam kehidupan.
Sebelum menyalahkan orang lain, lakukan “debugging” terhadap diri sendiri.
Apakah saya sudah memahami persoalannya secara utuh?
Apakah ada informasi yang belum saya ketahui?
Apakah saya sudah bertanya langsung?
Apakah saya sudah memberi kesempatan orang lain untuk menjelaskan?
Garbage In, Garbage Out
Dalam dunia Artificial Intelligence dikenal prinsip:
Garbage In, Garbage Out (GIGO).
Jika data yang masuk salah, maka hasil analisisnya juga akan salah.
Lebih jauh lagi, dalam pengembangan AI dikenal istilah bias pada data. Jika data latih hanya berasal dari satu sudut pandang, maka model akan menghasilkan keputusan yang bias. Bukan karena algoritmanya buruk, tetapi karena datanya tidak lengkap.
Bukankah manusia juga demikian?
Ketika kita hanya menerima informasi dari satu pihak, tanpa tabayyun, tanpa klarifikasi, dan tanpa mendengar pihak lainnya, maka “algoritma berpikir” kita pun menjadi bias. Kita merasa sedang menegakkan kebenaran, padahal bisa jadi kita sedang memperbesar ketidakadilan.
Feedback Sebelum Bereaksi
Dalam control system, gangguan (disturbance) pasti ada. Namun sistem yang baik tidak langsung bereaksi secara berlebihan. Ia memiliki mekanisme feedback untuk menstabilkan sistem sebelum mengambil keputusan berikutnya.
Demikian pula seorang mukmin.
Ketika dihina, difitnah, atau didzalimi, jangan langsung bereaksi. Bangunlah feedback berupa istighfar, tabayyun, musyawarah, dan introspeksi. Dengan demikian keputusan yang diambil tetap proporsional, bukan emosional.
Kebencian Tidak Boleh Mengubah Algoritma Keadilan
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapakmu, ataupun kaum kerabatmu…”
(QS. An-Nisa’: 135)
pov lain lagi
“…Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Dua ayat ini mengajarkan keseimbangan yang luar biasa.
Jangan berat sebelah karena cinta.
Jangan pula berat sebelah karena benci.
Dalam dunia komputasi, algoritma yang baik akan menghasilkan keputusan yang konsisten siapa pun input-nya. Algoritma tidak boleh berubah hanya karena menyukai atau membenci pengguna tertentu.
Begitu pula seorang mukmin.
Ketika hati sedang marah, sedih, atau merasa didzalimi, algoritma keadilannya tidak boleh berubah.
Perkuat Kualitas, Bukan Memperbesar Konflik
Ketika merasa diperlakukan tidak adil, reaksi pertama sering kali adalah ingin melawan, membalas, atau mencari dukungan publik.
Padahal jalan yang lebih mulia adalah beristighfar, introspeksi, lalu memperbaiki diri.
Tidak perlu sibuk mencari kambing hitam.
Tidak perlu menghabiskan energi menggiring opini.
Perkuat kualitas.
Tingkatkan kompetensi.
Jaga integritas.
Biarkan karya yang berbicara.
Saya teringat tulisan sebelumnya: ketika merasa didzalimi, teruslah meningkatkan kualitas diri. Sebab kualitas yang disertai kejujuran dan integritas pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.
Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Namun Allah tidak pernah salah dalam menilai.
Sebagai pribadi, sebagai pemimpin, maupun sebagai organisasi, mari menjadikan setiap persoalan sebagai bahan introspeksi dan perbaikan, bukan bahan permusuhan.
Dalam dunia teknik, kualitas sebuah sistem tidak diukur ketika semua sensor bekerja sempurna. Kualitas sistem justru terlihat ketika menghadapi gangguan (noise), kehilangan data, atau sensor yang rusak.
Demikian pula manusia.
Kualitas iman tidak hanya tampak ketika semua orang memperlakukan kita dengan baik. Kualitas iman justru terlihat ketika kita difitnah, disakiti, atau merasa didzalimi.
Saat itulah kita diuji.
Apakah kita tetap memilih jalan keadilan, atau justru membalas dengan kedzaliman yang lebih besar?
Semoga Allah menjaga hati kita dari prasangka, menjaga lisan kita dari fitnah, menjaga jemari kita dari menyebarkan informasi yang belum tentu benar, serta menjaga langkah kita agar tetap berada di jalan keadilan. Aamiin.
Merasa didzalimi memang menyakitkan. Namun menjadi dzalim jauh lebih berbahaya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
* InsyaAllah selalu menjadi FairMan 🙂



