Karena Tidak Semua yang Kita Inginkan Harus Kita Miliki
Setahun lalu saya menulis tentang hijrah. Momentumnya pas saat pergantian kiswah di Mekah.
Hari ini, ketika Tahun Baru Hijriah kembali hadir, saya merasa pesan tersebut masih relevan untuk direnungkan bersama.
Sering kali kita memaknai hijrah sebagai perpindahan tempat, dari Mekah ke Madinah. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, hijrah yang lebih berat justru adalah perpindahan dalam diri kita sendiri.
Dari pola pikir yang salah menuju pola pikir yang benar.
Dari kebiasaan yang kurang baik menuju kebiasaan yang lebih baik.
Hijrah bukan sekadar pergantian kalender. Hijrah adalah keberanian untuk berubah.
Sebagai orang teknik, saya teringat analogi sederhana tentang kendaraan. Mesin kendaraan memiliki tenaga yang besar. Semakin besar tenaga, semakin cepat kendaraan dapat melaju. Namun tanpa rem yang baik, tenaga justru bisa menjadi sumber kecelakaan.
Demikian pula dengan manusia.
Keinginan adalah tenaga penggerak kehidupan. Tanpa keinginan, manusia tidak akan maju. Tidak akan belajar. Tidak akan bekerja keras. Tidak akan berinovasi.
Tetapi jika keinginan tidak diimbangi dengan kesadaran dan pengendalian diri, maka keinginan dapat membawa manusia pada masalah yang tidak ada habisnya.
Kita ingin rumah yang lebih besar.
Lalu ingin kendaraan yang lebih baru.
Kemudian ingin gawai yang lebih mahal.
Setelah itu muncul keinginan-keinginan berikutnya.
Tidak ada ujungnya.
Akibatnya, banyak orang terjebak dalam kehidupan besar pasak daripada tiang. Penghasilan meningkat, tetapi pengeluaran meningkat lebih cepat. Gaji naik, tetapi ketenangan hidup justru menurun.
Namun tidak semua orang diuji dengan kemewahan.
Sebagian justru diuji dengan keterbatasan.
Ada suami yang bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Ada yang menjadi satpam.
Ada yang menjadi cleaning service.
Ada yang menjadi buruh harian.
Penghasilannya mungkin tidak besar. Bahkan kadang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga.
Apalagi saat ini pemerintah menyediakan berbagai program bantuan pendidikan yang memungkinkan anak-anak dari keluarga sederhana tetap memiliki kesempatan meraih masa depan yang lebih baik.
Tetapi selama rezeki yang diperoleh halal, keluarga masih bisa makan, anak-anak masih bisa sekolah, dan rumah tangga tetap berjalan dengan baik, sesungguhnya itu adalah nikmat yang luar biasa.
Sayangnya, tidak sedikit yang kemudian membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Melihat tetangga berganti mobil.
Melihat teman memamerkan liburan.
Melihat gaya hidup yang sebenarnya berada di luar kemampuannya.
Lalu muncul keinginan untuk ikut memiliki semuanya.
Ketika kemampuan tidak cukup, jalan pintas mulai dicari.
Menutup lubang dengan menggali lubang lain.
Pinjaman online.
Utang konsumtif.
Cicilan yang melebihi kemampuan.
Bahkan terkadang berutang bukan karena kebutuhan, tetapi demi gengsi.
Padahal yang dibutuhkan bukan tambahan utang, melainkan tambahan kesadaran.
Kesadaran bahwa setiap orang memiliki ujian yang berbeda.
Kesadaran bahwa ukuran keberhasilan hidup bukanlah siapa yang paling banyak memiliki, tetapi siapa yang paling pandai mensyukuri.
Dalam dunia teknik, kita mengenal sistem kendali (feedback control system). Sebuah sistem yang baik bukan sistem yang bekerja tanpa batas, tetapi sistem yang mampu mengoreksi dirinya ketika mulai menyimpang dari tujuan.
Begitu pula kehidupan manusia.
Kesadaran adalah sistem kendali itu.
Saat kita mulai berlebihan dalam berbelanja, kesadaran mengingatkan.
Saat kita mulai iri terhadap milik orang lain, kesadaran mengingatkan.
Saat kita mulai memaksakan sesuatu yang sebenarnya belum mampu kita miliki, kesadaran mengingatkan.
Kesadaran itulah yang menjaga arah perjalanan hidup kita agar tetap berada pada jalur yang benar.
Ibarat perjalanan menuju suatu tujuan, tidak semua orang memulai dari titik yang sama.
Ada yang berangkat dengan mobil.
Ada yang menggunakan sepeda motor
Ada yang bahkan masih berjalan kaki.
Namun tujuan hidup bukanlah menyamai kendaraan orang lain.
Tujuan hidup adalah terus bergerak maju sesuai kemampuan yang ALLAH berikan.
Karena sesungguhnya masalah terbesar manusia sering kali bukan kurangnya rezeki, melainkan tidak adanya batas pada keinginan.
Maka hijrah yang perlu kita lakukan hari ini mungkin bukan berpindah kota, berpindah pekerjaan, atau berpindah lingkungan.
Tetapi berpindah dari keinginan menuju kesadaran.
Dari besar pasak daripada tiang menjadi hidup sesuai kemampuan.
Dari mengejar apa yang belum dimiliki menjadi mensyukuri apa yang sudah dimiliki.
Dari dikendalikan hawa nafsu menjadi mampu mengendalikan diri.
Dari formalitas menjadi keikhlasan.
Dari keterpaksaan menjadi cinta.
Kebahagiaan tidak selalu datang karena bertambahnya harta.
Sering kali kebahagiaan hadir ketika kita mampu membatasi keinginan dan mensyukuri yang ada.
Dan tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki.
Tetapi apa yang telah ALLAH titipkan kepada kita, sudah sepatutnya kita syukuri.
Semoga Tahun Baru Hijriah 1448 H tidak hanya menjadi pergantian angka dalam kalender, tetapi menjadi momentum hijrah yang sesungguhnya.
Hijrah dari keinginan menuju kesadaran.
Hijrah dari hawa nafsu menuju syukur.
Hijrah menuju pribadi yang lebih baik setiap hari.
Selamat Tahun Baru Hijriah 1448 H. Selamat berhijrah.



