Bukan Hanya Tersambung, Tapi Menyambungkan
Ibarat manusia zaman sekarang, entah anak muda, remaja, dewasa, hingga yang sepuh semua butuh koneksi internet. Begitu terputus dari internet, kita gelisah. Kalau paket data habis, kita segera cari Wi-Fi, atau minta tethering dari teman.
Tanpa koneksi, kita merasa “hilang arah.”
Padahal… itu cuma internet.
Bagaimana dengan koneksi kita kepada Allah?
Apakah saat terputus dari Sang Pencipta Segalanya, kita merasa sama gelisahnya?
Apakah kita langsung “cari sinyal” ruhani?
Kalau iya, bersyukurlah. Itu tanda hati kita masih hidup.
Koneksi kepada Allah seperti akses ke pusat komando kehidupan.
Tanpa-Nya, hidup kita buntu.
Tanpa-Nya, arah hidup kita kabur.
Maka menjelang Armusna (Arafah Muzdalifah Mina), mari kita periksa koneksi itu.
Apakah sinyalnya stabil? Apakah kuota ibadah kita masih ada? Apakah kita rutin update firmware hati kita lewat dzikir, doa, dan amal?
Dan jangan berhenti di situ.
Saat kita punya “paket data besar” dari Allah, baik itu ilmu, rezeki, dan kesehatan serta keimanan maka mari kita aktifkan fitur tethering.
Berbagilah
Tolong mereka yang kehabisan “kuota”.
Ajak mereka yang sinyalnya lemah untuk kembali mendekat.
Jangan egois dalam ibadah.
Bukankah Rasulullah bersabda, membantu orang lain pahalanya luar biasa.
“Sungguh aku berjalan bersama saudaraku untuk suatu keperluan, itu lebih aku cintai daripada aku beriktikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan penuh.”
Koneksi kita kepada Allah itu penting.
Tapi sejauh mana kita berbagi koneksi itu juga menentukan kemabruran haji kita.
Mabrur bukan hanya tentang vertikal, tapi juga horizontal.
Bukan hanya tentang seberapa kuat kita tersambung ke langit,
tapi seberapa luas kita pancarkan kebaikan ke bumi.
Maka, ayo:
Pastikan modem hati kita terus nyala.
Aktifkan tethering amal bagi sekitar.
Jadikan haji ini bukan hanya perjalanan ke Baitullah, tapi juga “hotspot” kebaikan yang menyambung jiwa-jiwa lain kepada Allah.
Allahu Akbar.
Semoga kita semua pulang nanti sebagai jamaah yang mabrur dan menebar sinyal kebaikan. Sebagaimana kata anak zaman now yang sedang viral, “menyala” dengan emotikon api yang menyala 🔥.
Itulah hidup yang mabrur MENYALA
Bukan cuma full kuota ibadah,
tapi juga full tebar manfaat.
Apalagi kalau kita punya keyakinan penuh,
bahwa kuota kita tak akan pernah habis,
selagi kita terus terkoneksi kepada Allah.
Teruslah nyambung. Teruslah menyala.
Karena iman, islam dan amal itu bukan hanya dirasakan sendiri,
tapi dipancarkan! 🔥



