Refleksi Hari Kesehatan Mental Sedunia, 10 Oktober 2026
Namanya Muhammad Hasbi Al Aqib. Usianya baru tujuh tahun, masih duduk di kelas dua SD di Pemalang. Usia ketika anak seharusnya asyik belajar, bermain, dan menikmati persahabatan.
Namun, kisah Aqib berakhir dengan duka. Ia meninggal dunia pada 30 September 2026 setelah menjalani perawatan.
Keluarganya mengungkap dugaan kekerasan yang dialaminya dari sejumlah kakak kelas. Penyebab kematian dan dugaan kekerasan tersebut masih memerlukan kepastian melalui proses penyelidikan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Saya membayangkan betapa beratnya perasaan orang tuanya. Anak yang berangkat sekolah untuk menuntut ilmu, justru harus pergi untuk selama-lamanya.
Peristiwa ini menyisakan pertanyaan besar. Dari mana anak-anak belajar menyakiti? Dari mana mereka mengenal kekerasan? Dan siapa sebenarnya yang sedang mereka tiru?
Hari ini, 10 Oktober, kita memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia. Momentum yang menurut saya penting direnungkan, bukan hanya sebagai pribadi, tetapi juga sebagai orang tua, guru, dosen, dan masyarakat.
Sebab kesehatan mental tidak terbentuk dalam sehari. Ada proses panjang yang melibatkan keluarga, lingkungan, pendidikan, dan perkembangan teknologi.
Pertama, keluarga. Rumah adalah sekolah pertama, orang tua adalah guru pertama. Anak-anak mungkin tidak selalu mendengarkan nasihat kita, tetapi mereka adalah peniru yang luar biasa.
Jika setiap hari mereka menyaksikan bentakan, penghinaan, bahkan kekerasan, jangan heran jika sebagian menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang biasa.
Bukan berarti semua anak akan menirunya, tetapi keteladanan orang tua jelas memiliki pengaruh besar.
Tegas tidak harus keras. Disiplin tidak harus menyakiti. Mendidik tidak harus mempermalukan.
Kedua, tontonan dan media sosial. Tidak sedikit anak sekarang lebih dekat dengan gadget daripada orang tuanya. Kita memberikan teknologi yang semakin canggih, tetapi terkadang lupa mendampingi apa yang mereka lihat dan pelajari.
Jangan-jangan kita sedang menyerahkan pendidikan karakter anak kepada algoritma. Padahal, algoritma tidak otomatis memahami nilai moral yang ingin kita tanamkan.
Ketiga, game. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia teknologi, saya memahami bahwa game juga bisa mendidik, melatih kreativitas, dan mengembangkan strategi. Namun, ketika permainan menggeser waktu belajar, tidur, ibadah, dan interaksi keluarga, tentu perlu dievaluasi.
Persoalannya bukan semata-mata teknologinya, melainkan bagaimana teknologi digunakan dan didampingi.
Nah, semua pengalaman itu dibawa anak ke sekolah, kemudian berlanjut hingga perguruan tinggi.
Sebagai dosen, saya melihat mahasiswa datang dengan latar belakang kehidupan yang berbeda. Ada yang percaya diri, ada yang menyimpan kecemasan, tekanan keluarga, bahkan persoalan yang tidak pernah diceritakan.
Kita sering menuntut mereka tangguh, produktif, dan berprestasi. Tetapi sudahkah kita menyediakan ruang untuk mendengarkan?
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengukur IPK, kompetensi, dan prestasi, tetapi lupa memperhatikan kesehatan mental manusia yang sedang kita didik.
Sebagai orang teknik, saya terbiasa memahami sistem melalui pendekatan:
Input –> Process –> Output.
Apa yang dilihat dan dialami anak menjadi bagian dari input. Pola asuh, lingkungan, dan pendidikan memengaruhi proses. Sedangkan perilaku merupakan sebagian dari output.
Tentu manusia jauh lebih kompleks daripada mesin. Namun, analoginya sederhana: jika output bermasalah, jangan hanya menyalahkan output. Evaluasi juga input dan prosesnya.
Lantas, apa solusinya?
Menurut saya, mulailah dari keluarga. Hadir, mendengarkan, memberikan keteladanan, dan membangun komunikasi dengan kasih sayang. Sekolah dan kampus harus menjadi ruang aman, bukan sekadar tempat mengejar prestasi.
Dan bagi saya pribadi, pendekatan keagamaan menjadi penguat yang sangat penting.
Iman memberikan pegangan, ibadah membantu menenangkan jiwa, dan ihsan mengajarkan kebaikan dalam memperlakukan sesama.
Allah SWT mengingatkan dalam QS. Al-Insyirah ayat 5–6 bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Selalu ada harapan dan jalan untuk berikhtiar, termasuk mencari pendampingan psikologis maupun pertolongan profesional ketika diperlukan.
Kesehatan mental bukan sekadar tentang kuat menghadapi persoalan, tetapi juga memiliki keberanian untuk mencari pertolongan dan kepedulian untuk menolong sesama.
Akhirnya, kisah Aqib menjadi pengingat bagi kita semua.
Kita ingin anak-anak santun, tetapi sudahkah kita berbicara santun? Kita ingin mereka tidak melakukan kekerasan, tetapi sudahkah kita memberikan keteladanan tanpa kekerasan?
Jangan sampai kita sibuk mencerdaskan pikiran anak-anak, tetapi lupa menjaga kesehatan jiwa mereka.
Sebab anak-anak adalah peniru yang luar biasa.
Sebelum menuntut mereka menjadi baik, mari bertanya kepada diri sendiri: Anak kita sedang menyalin siapa?
Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia.
Menjaga pikiran dengan ilmu, merawat jiwa dengan iman, dan membangun kehidupan dengan kasih sayang.
firmanarifin.id | TikTok & IG: @firman.arifin


