Tentang fair play, panggilan Allah, dan kebersamaan yang tidak mengenal profesi maupun status sosial.
Warung Kopi, Masjid, dan Final Piala Dunia. Tiga tempat yang tampaknya tidak saling berkaitan. Namun Senin dini hari itu, ketiganya justru mengajarkan saya tentang prioritas, sportivitas, dan persaudaraan.
Hari itu menjadi waktu yang berbeda bagi warga RT 4 RW 2 Kejawan Putih Tambak, Surabaya. Warung Kopi Ijo dipenuhi warga.
Selama 90 menit kedua tim bermain imbang sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan waktu 2 × 15 menit. Dominasi permainan Spanyol cukup terlihat, terutama dalam penguasaan bola dan intensitas serangan. Beberapa peluang bahkan sempat dianulir karena keputusan wasit yang masih menjadi bahan diskusi para penonton.
Sebagai penonton, tentu setiap orang memiliki sudut pandang masing-masing. Ada yang menilai beberapa keputusan wasit selama turnamen menguntungkan Argentina. Ada pula yang berpendapat semuanya masih sesuai aturan. Itulah sepak bola, selalu menghadirkan ruang diskusi.
Tidak ada sekat profesi, usia, ataupun latar belakang. Semua duduk berdampingan menikmati secangkir kopi, susu, teh hangat, dan satu pertandingan yang menyatukan perhatian, final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina.
Pertandingan sangat menarik
Namun, satu hal yang sulit dibantah adalah kualitas permainan Spanyol. Mereka bermain sabar, disiplin, dan terus menekan hingga akhirnya memperoleh hasil terbaik.
Bagi saya, ada pelajaran yang lebih besar daripada sekadar skor akhir. Dalam kehidupan, kita mungkin pernah merasa diperlakukan kurang adil. Kadang keputusan tidak berpihak kepada kita.
Namun jika kualitas terus ditingkatkan, integritas tetap dijaga, dan semangat tidak pernah padam, pada akhirnya kualitas akan menemukan jalannya sendiri.
Memasuki babak tambahan waktu, azan Subuh berkumandang di Surabaya.
Saya pun izin kepada teman-teman untuk meninggalkan layar sejenak. Pertandingan memang menarik, tetapi panggilan Allah tentu harus didahulukan. Kami melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid Sabilillah, kemudian berzikir dan berdoa.
Usai shalat, saya berjalan kembali menuju Warung Kopi Ijo. Belum sempat duduk, terdengar sorak-sorai dari dalam warung.
“Gol… Spanyol mencetak gol!”
Ternyata pada saat itulah gol penentu kemenangan tercipta.
Yang lebih menarik lagi, setelah shalat Subuh justru penonton bertambah. Beberapa jamaah yang sebelumnya tidak ikut menonton mampir ke warung kopi seusai shalat. Suasana menjadi semakin ramai.
Warga yang sejak awal mengikuti pertandingan bercampur dengan jamaah yang baru selesai Subuhan. Dari masjid mereka menuju warung kopi, bukan untuk melanjutkan “pertandingan hidup”, tetapi untuk melanjutkan silaturahmi.
Bagi saya, ini juga sebuah tanda bahwa kehidupan yang seimbang itu indah. Ibadah ditunaikan pada waktunya, kemudian kebersamaan dengan tetangga tetap dirawat. Panggilan Allah didahulukan, silaturahmi tidak ditinggalkan.
Yang paling saya syukuri malam itu bukan semata-mata pertandingan yang berlangsung seru, melainkan suasana kebersamaan yang tercipta di Warung Kopi Ijo.
Warga datang dari berbagai latar belakang. Ada nelayan, pekerja swasta, pelaku usaha, profesional, dosen, hingga mahasiswa. Mahasiswa yang hadir pun berasal dari berbagai kampus, seperti ITS, PENS, PPNS, dan beberapa perguruan tinggi lainnya.
Sebagian mahasiswa memang berkumpul bersama teman-teman kampusnya, tetapi warga duduk dan bercengkerama secara alami tanpa sekat profesi maupun status sosial. Semua menyatu dalam suasana kekeluargaan.
Sebagai Ketua RT, saya pun ikut berbaur. Menyapa warga, berbincang ringan, bercanda, lalu kembali menikmati jalannya pertandingan. Momen seperti inilah yang mempererat hubungan antar tetangga.
Kami saling mengenal bukan karena jabatan, pekerjaan, ataupun gelar akademik, melainkan karena kami adalah keluarga besar dalam satu lingkungan.
Sederhana memang. Hanya sebuah warung kopi di sudut kampung. Namun di tempat sederhana itulah nilai-nilai persatuan tumbuh dengan begitu alami. Sambil menyeruput kopi, susu, teh hangat, dan menikmati camilan. Kami belajar bahwa perbedaan profesi, tingkat pendidikan, usia, maupun pilihan tim bukanlah alasan untuk saling menjauh.
Ketika peluit panjang dibunyikan, semua pulang dengan wajah ceria. Tidak ada permusuhan karena berbeda dukungan. Yang tersisa hanyalah tawa, cerita, dan kebersamaan.
Bagi saya, inilah kemenangan yang sesungguhnya.
Sepak bola hanya berlangsung 120 menit. Namun persaudaraan sebagai warga semoga berlangsung seumur hidup.
Mari kembali menjalankan aktivitas masing-masing dengan semangat membangun Indonesia. Karena Indonesia yang kuat dibangun bukan hanya oleh orang-orang hebat.
Tetapi juga oleh warga yang mampu hidup rukun, saling menghormati, dan menjaga kebersamaan. Bahkan dari bangku-bangku sederhana di sebuah warung kopi.
Warung kopi mengajarkan kebersamaan.
Masjid mengajarkan prioritas.
Sepak bola mengajarkan sportivitas.
Ketika ketiganya berjalan beriringan,
saya semakin yakin bahwa Indonesia akan selalu memiliki harapan.



