Pancasila bukan hanya dihafal, tetapi diwujudkan dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, hingga kota.
Awali dengan parikan sik yo.
Suro & Boyo bukan legenda,
Tapi semangat yang terus menyala.
Selamat HJKS 733,
Surabaya, Kota Pahlawan penuh karya.
Parikan sederhana ini mengingatkan kita bahwa Suro dan Boyo bukan sekadar ikon yang berdiri megah di tengah kota. Keduanya adalah simbol keberanian, ketangguhan, dan semangat pantang menyerah yang telah menjadi bagian dari karakter warga Surabaya selama ratusan tahun.
Tema Hari Jadi Kota Surabaya ke-733 tahun ini sangat menarik: “Pancasila Kuat, Surabaya Hebat!”
Kalimatnya singkat, tetapi sesungguhnya mengandung pesan yang sangat mendalam.
Karena kehebatan sebuah kota tidak lahir begitu saja. Ia dibangun dari nilai-nilai yang hidup dalam diri warganya. Dan nilai-nilai itulah yang dirumuskan para pendiri bangsa dalam Pancasila.
Dalam analogi teknik yang sering saya gunakan, Pancasila ibarat operating system bangsa Indonesia. Sistem operasi yang mengatur arah, perilaku, dan interaksi seluruh komponen di dalamnya.
Jika sistem operasinya kuat, maka program pembangunan akan berjalan dengan baik. Jika fondasinya kokoh, maka bangunan yang berdiri di atasnya juga akan kuat.
Namun Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan. Ia harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dan tindakan itu selalu dimulai dari radius yang paling dekat. Dimulai dari diri sendiri. Menjadi pribadi yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.
Lalu bergerak ke keluarga. Menanamkan nilai kasih sayang, saling menghormati, dan kepedulian kepada anak-anak serta anggota keluarga.
Kemudian meluas ke masyarakat. Menjadi tetangga yang baik, peduli terhadap lingkungan sekitar, serta ikut menjaga kerukunan.
Berikutnya berkembang ke tingkat kampung, RT, RW, dan kelurahan. Bergotong royong menyelesaikan persoalan bersama, menjaga keamanan lingkungan, membantu warga yang membutuhkan, dan membangun kebersamaan.
Jika lingkaran-lingkaran kecil ini kuat, maka kota juga akan kuat.
Karena sesungguhnya Surabaya bukan hanya Balai Kota. Surabaya adalah jutaan warganya. Surabaya adalah keluarga-keluarga yang mendidik anak-anaknya dengan baik.
Surabaya adalah kampung-kampung yang guyub. Surabaya adalah warga yang mau berbuat, meski dari hal-hal kecil.
Alhamdulillah, saya pribadi merasakan perjalanan itu. Sebagai individu, sebagai kepala keluarga, pernah dan sedang mendapat amanah sebagai Ketua RT 4 RW 2 di Kejawan Putih Tambak. Pernah pula mengemban amanah ketua RW 7 Gunung Anyar. Semua itu bukan sekadar jabatan, tetapi kesempatan untuk berkontribusi.
Karena membangun kota tidak harus selalu melalui proyek besar. Terkadang dimulai dari membantu tetangga, menjaga lingkungan, menyelesaikan persoalan warga, atau menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Dari lingkaran kecil itulah lahir dampak yang lebih besar.

Hari ini, saya ikut hadir dalam HJKS di Balai Kota. Ketika Surabaya berusia 733 tahun, semoga semangat itu terus hidup. Bahwa setiap warga memiliki peran. Bahwa setiap kontribusi, sekecil apa pun, adalah bagian dari membesarkan Kota Pahlawan.
Sebab Surabaya yang hebat bukan hanya dibangun oleh wali kota, pemerintah, atau para pemimpinnya.
Surabaya yang hebat dibangun oleh warga-warganya.
Oleh keluarga-keluarga yang baik.
Oleh kampung-kampung yang hidup.
Oleh masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai Pancasila.
Karena ketika Pancasila kuat di dalam diri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan kita, maka Surabaya akan semakin hebat.
Selamat Hari Jadi Kota Surabaya ke-733.
Pancasila Kuat, Surabaya Hebat!



