Sastra Teknik

Sehat, Manfaat, Bermartabat: Cara Sederhana Menghidupkan Pancasila

Hari ini kita memperingati Hari Lahir Pancasila.

Olah raga dulu, Sobat.

Saya dan istri memperingatinya dengan cara yang sederhana: berolahraga di InfinITS, area olahraga yang ciamik di dalam kampus ITS, tepatnya di depan Departemen Teknik Elektro atau Tower 2.

Sebagaimana biasanya, kami juga merekam “jejak-jejak” langkah dan aktivitas olahraga tersebut melalui Strava, https://strava.app.link/1vM4Uzm8B3b. Bukan untuk pamer, tetapi sebagai pengingat bahwa perjalanan kecil yang dilakukan secara konsisten akan meninggalkan jejak yang bermakna.

Kadang jejak-jejak sederhana itu juga saya bagikan melalui media sosial, termasuk TikTok, https://vt.tiktok.com/ZSxvoV1xW/. Selain menjadi dokumentasi pribadi, ia juga menjadi pengingat bagi diri sendiri dan siapa tahu bisa mengajak orang lain untuk ikut bergerak dan hidup lebih sehat.

Pagi itu udara terasa segar. Banyak orang berjalan, berlari, nge-gym, bersepeda, atau sekadar menikmati suasana akhir pekan. Di tengah aktivitas tersebut, pikiran saya justru melayang pada Pancasila.

Biasanya kita membicarakan sejarahnya, para perumusnya, atau makna dari setiap silanya. Semua itu penting. Namun pagi ini saya justru teringat satu hal yang sangat sederhana: olahraga.

Mengapa?

Karena Pancasila bukan sekadar untuk dihafal.
Pancasila harus dihidupkan.
Dan untuk menghidupkannya, kita membutuhkan energi.

Energi untuk beribadah kepada Allah.
Energi untuk menghormati dan membantu sesama manusia.
Energi untuk menjaga persatuan.
Energi untuk bermusyawarah dengan bijaksana.
Energi untuk bekerja dan berkarya demi menghadirkan keadilan sosial.

Singkatnya, Pancasila adalah nilai. Tetapi nilai hanya akan menjadi kenyataan jika ada tindakan. Dan tindakan membutuhkan tenaga.

Karena itu, menjaga kesehatan bukan hanya urusan pribadi.
Kesehatan adalah modal untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
Pancasila membutuhkan manusia yang sehat untuk mengimplementasikannya.
Dan ketika Pancasila dijalankan dengan baik, lahirlah masyarakat yang sehat.

Sila pertama melahirkan kesehatan spiritual. Hubungan manusia dengan Tuhan menjadi lebih baik.

Sila kedua melahirkan kesehatan sosial. Manusia belajar menghormati dan memanusiakan sesamanya.

Sila ketiga melahirkan kesehatan kebangsaan. Persatuan menjadi kekuatan bersama.

Sila keempat melahirkan kesehatan dalam proses pengambilan keputusan. Musyawarah membuat perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan. Perbedaan tidak menjadi perpecahan, tetapi menjadi kekuatan untuk menemukan kebijaksanaan bersama.

Dan sila kelima melahirkan kesehatan kehidupan sosial melalui keadilan dan kesejahteraan yang dirasakan bersama.

Maka olahraga pagi ini bukan sekadar membakar kalori.

Ia adalah pengingat bahwa tubuh yang sehat akan lebih siap untuk beribadah, berkarya, mengabdi, dan memberi manfaat.

Karena hidup yang baik tidak berhenti pada sehat.

Sehat adalah modal.
Modal itu harus melahirkan manfaat.
Dan manfaat yang terus mengalir akan menjaga martabat manusia.

Maka salah satu cara sederhana menghidupkan Pancasila adalah:
Sehat raganya.
Manfaat keberadaannya.
Bermartabat kehidupannya.

Jangan hanya sehat untuk diri sendiri.
Jadilah sehat yang memberi manfaat.
Jadilah manfaat yang menjaga martabat.
Karena di sanalah Pancasila menemukan wujudnya dalam kehidupan nyata.

Selamat Hari Lahir Pancasila.
Mari terus mengisi energi diri, keluarga, dan bangsa.
Karena Pancasila tidak hidup di dalam buku.

Pancasila hidup di dalam tindakan.
Dimulai dari tubuh yang sehat, karya yang bermanfaat, dan kehidupan yang bermartabat.

Pancasila Kuat, Indonesia Hebat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *