Haji - Sastra Teknik

Magnet Kehidupan Bernama Allah

Hari ini ada orang yang sangat sibuk.

Jadwalnya penuh.
Aktivitasnya padat.
Targetnya banyak.

Tetapi hatinya lelah.Bahkan kadang terasa hampa.

Seakan hidup terus bergerak,
tetapi tidak benar-benar tahu sedang menuju ke mana.

Di sisi lain, ada juga yang sedang tidak punya pekerjaan.
Bingung.
Cemas.
Pusing memikirkan hidup.

Hari-harinya terasa berat karena merasa tidak memiliki arah dan aktivitas.

Menariknya, kadang yang terlalu sibuk maupun yang sedang menganggur sama-sama bisa merasakan kosong.

Yang satu lelah karena terlalu banyak beban.
Yang satu gelisah karena merasa tidak punya peran.

Karena ternyata masalah terbesar manusia seringkali bukan sekadar sibuk atau tidak sibuk.

Tetapi apakah hidupnya punya arah.

Sebaliknya, ada orang yang hidupnya terlihat biasa saja.
Aktivitasnya ada.
Tanggung jawabnya berjalan.
Kadang sibuk.
Kadang longgar.

Tetapi hatinya tenang.

Saat diberi kesibukan, ia menjadikannya jalan manfaat dan ibadah.

Saat diuji dengan kesempitan atau belum adanya pekerjaan, ia tetap yakin bahwa Allah sedang menyiapkan takdir terbaiknya.

Ia tidak mudah kehilangan arah.
Karena pusat hidupnya bukan dunia.

Melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kadang dalam kehidupan, kita seperti besi.

Bisa tertarik ke mana saja.

Ke dunia.
Ke jabatan.
Ke pujian.
Ke harta.
Ke hal-hal yang setiap hari memanggil perhatian kita.

Jika besi itu tidak punya arah magnet yang jelas, maka ia akan mudah ditarik oleh magnet-magnet kecil di sekitarnya.

Hari ini tertarik ke sini.
Besok tertarik ke sana.
Hidupnya bergerak, tetapi tidak benar-benar menuju tujuan.

Begitulah manusia ketika tidak memiliki arah hidup yang kuat.

Dalam analogi sederhana teknik dan kehidupan, Allah Subhanahu wa Ta’ala ibarat magnet terbesar.

Daya tarik-Nya sebenarnya luar biasa kuat.

Namun kadang hati kita justru melemah.

Bukan karena magnet itu lemah.
Tetapi karena diri kita menjauh, berkarat, atau terlalu sibuk dengan tarikan-tarikan kecil dunia.

Padahal ketika hati mulai dekat kepada Allah, maka arah hidup menjadi lebih jelas.

Langkah tidak lagi sekadar bergerak.
Tetapi menuju.

Menuju ridha-Nya.
Menuju ampunan-Nya.
Menuju rumah hakiki kehidupan.

Orang yang memiliki “magnet kehidupan” kepada Allah biasanya lebih tenang.
Karena ia tahu arah akhirnya.

Ia tidak mudah bingung oleh perubahan dunia.
Tidak mudah terseret arus.
Tidak mudah kehilangan makna hidup.

Bahkan menariknya, semakin besar “magnet iman” dalam diri seseorang, semakin kuat pula ia menarik kebaikan di sekitarnya.

Ucapan menjadi lebih menenangkan.
Langkah menjadi lebih bermanfaat.
Keberadaannya menghadirkan keteduhan.

Sebaliknya, saat manusia kehilangan arah kepada Allah, maka magnet-magnet kecil dunia mulai mengambil alih:
nafsu,
kesombongan,
setan,
ambisi tanpa makna,
hingga hal-hal yang melalaikan.

Akhirnya hidup berjalan, tetapi tidak tahu menuju ke mana.

Dan hari-hari ini, jutaan jamaah haji sedang bergerak menuju Armuzna, menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Hari Senin pekan depan. Tanggal 8 Dzulhijjah, para jamaah mulai bergerak menuju Arafah.
Sebuah perjalanan yang bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perjalanan hati menuju Allah.

Karena inti haji sejatinya ada di Arafah.

Tempat manusia berkumpul,
melepas kesombongan,
melepas atribut dunia,
dan kembali menyadari bahwa semua sedang menuju Tuhan yang sama.

Bagi yang belum berhaji, Rasulullah SAW juga menganjurkan puasa Arafah bagi yang tidak sedang menunaikan haji.

Puasa yang bukan hanya menahan lapar dan dahaga,
tetapi juga momentum membersihkan hati dan memperbaiki arah hidup.

Mungkin inilah salah satu pelajaran terbesar haji,
bahwa hidup harus punya arah.

Dan arah terbaik manusia adalah menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena sejatinya hidup manusia bukan sekadar berjalan di bumi,
tetapi sedang pulang menuju Allah.

Hikmah Jumat semoga menyadarkan kita,
bahwa hidup bukan sekadar bergerak.

Tetapi tentang menuju ke mana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *