Bongkar-bongkar file lama, ternyata menemukan tulisan saya ini. Tulisan mahasiswa S1 sekitar era reformasi 1999. Membacanya kembali membuat saya tersenyum sendiri. Alhamdulillah benih-benih cara berpikir, kepedulian terhadap bangsa, dan semangat menulis itu sudah mulai tumbuh sejak masa mahasiswa.
………
Kolom Suara Mahasiswa, oleh: Firman Arifin
Mahasiswa T. Elektro ITS
Berawal adanya krisis moneter pada pertengahan tahun 1997 dua tahun lalu, tuntutan reformasi yang dimotori oleh mahasiswa paling tidak bisa dijadikan momentum dari perubahan suhu politik Indonesia. Bahkan mahasiswa bersama para tokoh reformis, tidak hanya sebagai motor dari reformasi ini, namun juga telah mengagendakan kemana reformasi ini akan diarahkan.
Buah pertama yang dapat dipetik dari reformasi itu, yang memang menjadi agenda utama dan pertama mahasiswa bersama tokoh reformis, yaitu telah berhasil melengserkan raja jawa, Soeharto.
Namun sebelum agenda reformasi dilanjutkan pada tahap berikutnya, mahasiswa sudah kembali ke tujuan awal mereka masing-masing seperti sebelum mereka ‘berkoalisi’ dengan semua kekuatan lembaga kemahasiswaan yang ada di seluruh Indonesia. Kita sadar bahwa masing-masing lembaga sebelum bersatu melawan penguasa pada saat itu sudah punya bendera sendiri untuk ditancapkan pada bidang yang mereka anggap lebih penting dengan metode yang mereka yakini.
Bagi penulis adanya perbedaan dalam kerangka demokrasi yang bernilai universal tidak masalah bahkan akan menjadi katalisator dalam pembenahan bangsa dan negara Indonesia.
Beranjak dari itulah maka fenomena adanya perbedaan dari para mahasiswa kembali mencuat disaat perhatian orang tertuju pada hajat besar bangsa Indonesia, yaitu pemilu. Hal ini oleh masyarakat dianggap biasa dalam era demokrasi, karena memang banyak kepentingan yang bermain dibelakangnya.
Kalau dulu di awal reformasi mahasiswa membawa bendera lembaga kemahasiswaannya masing-masing untuk berkiprah dalam proses reformasi, sekarang di era multi partai ini tidak sedikit mahasiswa yang sudah terjun di dunia partai yang sejalan dengan aspirasi mereka.
Kalau kita melihat dengan kacamata orde baru, bahwa banyak wadah atau partai berarti banyak pertikaian. Maka seolah-olah posisi mahasiswa antara yang satu dengan yang lain, mahasiswa yang aktif di partai dan yang tidak, akan semakin memperbesar kemungkinan terjadinya friksi. Namun kalau kita kembali pada kaidah demokrasi yang bernilai universal yang menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan, maka kacamata orde baru tersebut sudah tidak cocok lagi bagi bangsa yang mendambakan terciptanya civil society.
Paling tidak ada beberapa catatan yang dapat saya kemukakan dalam menyikapi perbedaan wadah atau pikiran bagi para mahasiswa dalam melanjutkan agenda reformasi ini.
Pertama, sadarilah bahwa posisi, kedudukan, wadah organisasi baik yang ormas atau orsospol, tidak kita jadikan sebagai tujuan akhir. Karena kalau itu yang menjadi tujuan akhir, maka yang diperjuangkan bukan pada nilai-nilai yang bercirikan dari masyarakat madani, tapi pembelaan habis-habisan terhadap wadah lembaga dimana kita berada.
Dari pengalaman sejarah yang ada di Indonesia ataupun di dunia sekalipun kalau kita membela hanya kelompok kita dan tidak mengindahkan kelompok yang lain, maka dalam komunitas itu sudah barang tentu kacamata orde baru berlaku lagi. Dan ini akan membuka peluang kembalinya lagi zaman pengebirian terhadap nilai-nilai demokrasi.
Kedua, tunjukkan bahwa yang kita punya bukan hanya konsep atau gagasan semata namun juga diaplikasi dengan program yang nyata-nyata bermanfaat bagi masyarakat semampu kita punya. Sekarang rakyat sudah bosan dengan janji, iming-iming atau retorika politik. Yang mereka butuhkan sekarang adalah kerja kita mana? Dengan adanya program yang riil tersebut tentunya masyarakat sendiri akan menilai siapa kita. Dan ini, bagi mahasiswa negeri utamanya, merupakan rasa pertanggungjawabannya terhadap masyarakat (rakyat) yang punya andil dalam membiayai kuliah mereka.
Ketiga, mengingat pentingnya pemilu untuk menghasilkan pemerintahan yang legitimate, maka mahasiswa sebagai kekuatan moral untuk ikut serta bersama pemerintah dalam mensukseskan pemilu. Ini bukan berarti saya pendukung pemerintah (status quo), namun inilah jalan yang terbaik bagi bangsa dan negara kita. Memang terselenggaranya pemilu kali ini tidak ada jaminan bahwa segala permasalahan bangsa Indonesia dapat diselesaikan secara cepat. Namun dengan suksesnya pemilu yang jujur dan adil, akan membuka jalan yang lapang dalam merealisasikan cita-cita bangsa Indonesia.
Di akhir tulisan ini, saya mengajak para mahasiswa dan para reformis baik yang di ormas atau orsospol, marilah kita rapatkan barisan dan selaraskan langkah dalam mensukseskan agenda reformasi menuju Indonesia yang berkeadilan, terbentuknya masyarakat madani. Viva mahasiswa! (manits)



