Sastra Teknik

Lindungan Allah di Tengah Kecelakaan Saat Menjalankan Amanah

Tulisan ini tentang peristiwa yang terjadi hampir dua tahun lalu. Tepatnya pada 9 Agustus 2024. Selama ini saya tidak terlalu banyak menceritakannya.

Namun belakangan saya merasa pengalaman tersebut layak dibagikan. Bukan untuk mengingat kembali musibah yang telah berlalu.

Ini sebagai bahan introspeksi bagi diri sendiri. Mudah-mudahan menjadi hikmah bagi siapa pun yang membacanya.

Foto di atas adalah foto asli mobil yang kami tumpangi pasca kecelakaan. Bukan foto rekaan atau foto kecelakaan orang lain.

Saya merasa, begitu dekatnya ajal itu.

Ada peristiwa-peristiwa dalam hidup yang membuat kita sadar bahwa manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar mengendalikan segalanya.

Kita boleh merencanakan perjalanan dengan matang. Memeriksa kendaraan. Menentukan tujuan. Mengatur jadwal.

Tetapi pada akhirnya, keselamatan tetap berada dalam genggaman ALLAH.

Jumat pagi, 9 Agustus 2024, saya bersama beberapa dosen, laboran, dan mahasiswa PENS berangkat menuju Wates, Blitar untuk melakukan uji coba alat penelitian.

Perjalanan dimulai sekitar pukul 06.30 WIB.

Kami menggunakan kendaraan HIACE yang disewa lengkap dengan sopirnya.

Sejak berangkat hingga memasuki ruas tol Surabaya–Sidoarjo, semuanya berjalan normal.

Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.
Tidak ada firasat apa pun.

Di dalam mobil, suasana santai.
Sebagian berbincang ringan.
Sebagian membuka ponsel.
Sebagian menikmati perjalanan pagi.

Saya duduk di kursi depan sebelah kiri.

Saat itu saya sedang berkoordinasi melalui WhatsApp dengan rekan-rekan Forum Komunikasi Ketua Senat Politeknik Seluruh Indonesia (FKSPI) untuk persiapan kegiatan yang akan dilaksanakan akhir bulan.

Semuanya terasa biasa.
Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan.

Mendekati kawasan Tol arah Japanan, tiba-tiba terdengar benturan yang sangat keras.

Tidak ada peringatan.
Tidak ada waktu untuk bereaksi.
Tidak ada kesempatan untuk berkata apa-apa.

Semuanya terjadi dalam hitungan detik.
“Bruak!”

Benturan itu mengguncang seluruh kendaraan.
Terutama di bagian kiri depan tempat saya duduk.

Sesaat setelah itu sopir berkata,
“Maaf Pak, saya microsleep.”

Kalimat yang pendek.
Tetapi dampaknya sangat besar.

Mobil yang kami tumpangi menabrak trailer yang melaju searah di jalur kiri.

Ketika kesadaran mulai kembali utuh, saya melihat kondisi kendaraan yang sudah ringsek parah.

Bagian depan hancur.
Kondisinya jauh lebih buruk daripada yang pernah saya bayangkan.

Namun pada saat yang sama, ada satu hal yang sangat kuat saya rasakan.

Saya masih bisa bernapas.
Saya masih bisa bergerak.
Saya masih sadar.

Dan di dalam hati hanya ada satu kalimat yang terus berulang:

“Alhamdulillah.”
“Alhamdulillah.”
“Alhamdulillah.”

Bukan karena kecelakaannya ringan.
Tetapi karena di tengah kecelakaan yang berat itu, ALLAH masih memberikan perlindungan.

Saya kemudian dievakuasi melalui pintu belakang karena pintu depan sudah tidak memungkinkan digunakan.

Rekan-rekan yang lain juga mulai keluar dari kendaraan.

Pak Budi yang duduk di belakang sopir sempat merekam kondisi kendaraan yang hancur dari arah depan.
Ketika melihat saya berhasil keluar dalam keadaan sadar, beliau terlihat sangat terkejut.

Dengan mata yang berkaca-kaca beliau berkata,
“Syukur Alhamdulillah kamu selamat, Firman. Ini benar-benar pertolongan ALLAH dan doa-doa Subuh tadi.”

Saya hanya bisa mengangguk.
Karena memang tidak ada kalimat lain yang lebih tepat selain bersyukur.

Tidak lama kemudian mobil patroli dan ambulans datang.
Kami dibawa ke Rumah Sakit Surya Delta Sidoarjo untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Saya dan beberapa rekan menjalani pemeriksaan dan foto rontgen.

Alhamdulillah, setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, tidak ditemukan cedera serius.

Saat duduk di rumah sakit bersama rekan-rekan, saya merenungkan kembali apa yang baru saja terjadi.

Peristiwa itu terasa seperti mimpi.
Begitu cepat.
Begitu singkat.
Tetapi begitu nyata.

Pagi itu saya berangkat dengan berbagai rencana pekerjaan.
Beberapa menit kemudian saya berada di ruang gawat darurat rumah sakit.

Peristiwa tersebut mengingatkan saya bahwa hidup sesungguhnya sangat rapuh.

Sering kali kita merasa masih memiliki banyak waktu.
Padahal tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi satu jam ke depan.

Karena itu, mungkin hikmah terbesar dari kejadian tersebut bukan sekadar tentang kecelakaan.
Melainkan tentang kesadaran.
Kesadaran bahwa umur adalah amanah.
Kesadaran bahwa setiap napas adalah hadiah.

Kesadaran bahwa keselamatan bukan semata hasil kemampuan manusia, tetapi juga karena rahmat dan perlindungan ALLAH.

Sejak saat itu saya semakin memahami bahwa syukur tidak hanya diucapkan ketika memperoleh nikmat.
Syukur juga harus hadir ketika kita diselamatkan dari musibah.
Karena sering kali kita lebih mudah menghitung nikmat yang datang daripada musibah yang berhasil dihindarkan.

Hari itu saya belajar bahwa perlindungan ALLAH kadang tidak selalu terlihat.
Namun jejaknya dapat kita rasakan.

Terutama ketika kita masih diberi kesempatan untuk pulang, berkumpul dengan keluarga, dan melanjutkan amanah kehidupan.

Alhamdulillah. Nikmat mana lagi yang kita dustakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *