“Belajar dan bekerja dengan cinta.”
Sebuah tagline yang sederhana. Pendek. Tidak rumit.
Tetapi justru lahir dari ruang hati yang paling dalam.
Karena dalam kehidupan, kita sering mencari hal-hal besar.
Padahal fondasi kehidupan sebenarnya sangat sederhana.
Belajar dan bekerja.
Dua hal yang hampir selalu hadir dalam perjalanan manusia.
Dalam dunia akademik yang saya jalani,
saya memaknai bahwa hidup itu seperti sebuah sistem.
Sebuah sistem dianggap berjalan baik ketika ada:
input, proses, dan output.
Input tanpa proses, tidak akan menghasilkan apa-apa.
Proses tanpa “arah”, akan melelahkan.
Output tanpa fondasi, akan rapuh.
Karena itu, dalam kehidupan manusia
input saya maknai sebagai belajar.
Dan output saya maknai sebagai bekerja.
Tidak mungkin seseorang bisa bekerja dengan baik,
tanpa pernah belajar dengan baik.
Profesionalisme tidak muncul tiba-tiba.
Keahlian tidak lahir mendadak.
Kompetensi,
baik ilmu maupun keterampilan,
selalu diawali oleh proses belajar.
Namun ternyata, belajar saja belum cukup.
Bekerja saja juga belum cukup.
Yang menentukan kualitas sebuah perjalanan,
adalah bagaimana proses itu dijalani.
Dan saya memaknai,
proses terbaik itu adalah cinta.
Karena cinta adalah tingkatan tertinggi dari sebuah aktivitas.
Kita mengenal banyak istilah:
komitmen, integritas, loyalitas, profesionalisme, dedikasi.
Semua itu luar biasa.
Tetapi di atas semuanya, ada cinta.
Orang yang bekerja karena kewajiban,
akan berhenti saat kewajibannya selesai.
Orang yang bekerja karena imbalan,
akan berhenti saat imbalannya dirasa kurang.
Tetapi orang yang bekerja dengan cinta,
seringkali tetap berjalan, meski tidak selalu dilihat.
Tetap memberi, meski tidak selalu dipuji.
Tetap berjuang, meski harus berkorban.
Karena cinta membuat seseorang tidak sekadar bertanya:
“apa yang saya dapat?”
Tetapi berubah menjadi:
“apa yang bisa saya berikan?”
Di situlah makna terdalamnya.
Belajar dengan cinta, membuat ilmu tidak terasa sebagai beban.
Bekerja dengan cinta, membuat lelah terasa lebih bermakna.
Dan ketika belajar serta bekerja dipertemukan dengan cinta,
maka lahirlah manusia yang bukan hanya “pintar”, tetapi juga tulus.
Bukan hanya profesional, tetapi juga penuh makna.
Itulah mengapa tagline sederhana ini terus saya pegang:
“Belajar dan bekerja dengan cinta.”
Sebuah kalimat sederhana, yang saya tuliskan di blog pribadi saya: firman-its.com dan sekarang berubah firmanarifin.id
Karena pada akhirnya, hidup mungkin bukan tentang siapa yang “pintar”.
Tetapi siapa yang mampu menjaga cinta, dalam setiap proses belajarnya dan dalam setiap pengabdiannya.